Ujian Akhir Semester
FILSAFAT TEKNOLOGI
PENDIDIKAN
Nama : Mutia
Nim : 8146121028
Kelas : A1
Mata
kuliah : Teori Belajar dan Pembelajaran
Prodi : Teknologi Pendidikan

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan
teknologi ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan social dan cultural,
perubahan persepsi dan anspirasi, selain sangat cepat berkembang, sering juga
sangat fundamental, tidak mudah diikuti oleh ilmu pendidikan tradisional.
Sebagaimana kata filosuf, bahwa dunia ini selalu berubah dan berkembang,
kecuali perubahan itu sendiri. Masyarakat menjdai semakin dinamis, ilmu
berkembang semakin hebat, teknologi semakin canggih. System kependidikan
kiranya perlu ditinjau dan diserasikan lagi na mengahdapi berbagai tugas-tugas
yang semakin komplek. Guru bukan merupakan satu-satunya sumber belajar. Karena
di luar itu, masih banyak sumber belajar yang lain yang dapat diakses oleh siswa,
sperti Koran, radio, televise, internet,dan masyarakat langsung.
Pemanfaatan
teknologi dalam dunia pendidikan merupakan issue penting yang perlu ditanggapi
dengan penuh kecermatan, baik dalam sikap maupun dalam langkah. Sehingga kita
tidak terjebak secara latah memakai teknologi canggih dan atau sebaliknya
apriopi terhadap pemakaian teknologi. Oleh karena dalam itu dalam langkah dan
sikap ini perlu kiranya tetap dijaga agar peran teknologi adalah tetap sebagai
alat dan bukan sebagai tujuan.
Pendidikan
merupakan investasi yang paling utama bagi setiap bangsa, apalagi bagi bangsa
yang sedang berkembang, yang giat membangun negaranya. Pembangunan hanya dapat
dilakukan oleh manusia yang dipersiapkan melalui pendidikan. Dalam zaman
kemajuan ilmu pengetahuan ini para ahli berusaha untuk meningkatkan pengajaran
itu menjadi suatu ilmu atau science. Dengan metode mengajar yang ilmiah
diharapkan, proses belajar mengajar itu lebih terjamin keberhasilannya. Inilah
yang sedang diusahakan oleh teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan memberi
pendekatan yang sistematis dan kritis tentang proses belajar mengajar.
Teknologi pendidikan memandangnya sebagai suatu masalah yang harus dihadapi
secara rasional dengan menerapkan metode pemecahan masalah. Penerapan Teknologi
di lembaga pendidikan merupakan jawaban persoalan yang sekarang ini dialami oleh
dunia pendidikan kita. Sebagai salah satu bagian dari sistem yang ada,
teknologi pendidikan sebenarnya adalah suatu cara atau teknis bagaimana agar
anak didik secara maksimal mampu menyerap ilmu pengetahuan yang disampaikan
oleh guru-gurunya atau anak dengan cara belajar dari proses alam sekitarnya
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, maka adapun yang menjadi rumusan masalah dalam
makalah ini bagaimanakah filsafat teknologi pendidikan ?
C.
Tujuan
Penelitian
Adapun
yang menjadi manfaat penulisan dalam makalah ini adalah agar dapat mengetahui filsafat
teknologi pendidikan.
D.
Manfaat
Penelitian
Adapun
yang menjadi manfaat penulisan dalam makalah ini untuk menambah wawasan dan
pengetahuan pembaca tentang filsafat teknologi pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Ontologi
Teknologi Pendidikan
Istilah
tekonologi berasal dari bahasa Yunani: technologi.
Technice berarti seni, keahlian atua sains, dan logos berarti ilmu. Teknologi menurut Gaibraith dapat diartikan
dapat diartikan sebagai penerapan sistematik dari pengetahuan ilmiah atau
terorganisasikan dalam hal-hal yang praktis. Teknologi pendidikan dalam arti
yang sempit bias merupakan media pendidikan, yaitu hasil teknologi pendidikan
sebagai alat bantu dalam pendidikan, yaitu hasil teknologi sebagai alat bantu
dalam pendidikan agar berhasil guna, efesien dan efektif.[1]
Sedang
dalam arti luas menurut Association for
Educational Communication and Technology (AECT) adalah proses yang kompleks
dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi
untuk menganalisis masalah, mencari problem solving, melaksanakan evaluasi dan
mengelola pemencahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia.[2]
Teknologi
pendidikan beroperasi dalam konteks masyarakat yang lebih luas; membantu
profesi yang berkenaan dengan penggunaan dan penerapan teknologi. Lebih jauh
sebagai profesi, teknologi berpihak pada sikap kemandirian dan kebebasan
intelektual, berpihak pada tindakan yang legal, menentang bahan-bahan yang
bersifat klise, dan berpihak pada usaha mengarah teknologi untuk membantu usaha
manusia dalam memenuhi tujuan hidupnya.[3]
Teknologi
pendidikan bergerak dalam keseluruhan bidang pendidikan. Dalam hubungannya
dengan profesi lain yang bergerak di bidang pendidikan, teknologi pendidikan
mengusahakan terciptanya keseimbangan dan hubungan kerja sama yang selaras di
antara berbagai profesi ini.[4]
Kurikulum
teknologi berorientasi ke masa depan yang memandang teknologi sebgai dunia yang
dapat diamati serta diukur secara pasti. Oleh karena itu dalam pendidikan lebih
mengutamakan penampilan perilaku lahirnyaatau eksternal dengan penerapan
praktis hasil penemuan-penemuan ilmiah yang secara karakteristik menuju kea rah
komputerisasi program pengajaran yang ideal sesuai dengan prinsip-prinsip
Gybeructis.
Dalam
proses belajar mengajar, model teknologi pendidikan lebih menitik beratkan
kemampuan siswa secara individual dimana materi pelajaran sesuai ketingkatan
kesiapan sehingga siswa mampu menunjukan perilaku tertentu yang diharapkan.
Manfaat
yang sangat besar dari model kerikulum teknologi ini adalah materi pelajaran
dapat disajikan kepada siswa dalam berbagai bentuk multimedia, para siswa
menerima pelajaran seperti pada model pendidikan klasikal, tetapi para siswa
lebih yakin dalam menangkap pelajarannya karena penyajian pelajaran lebih
hidup, lebih realistis serta lebih impresif.[5]
Secara
tersusun Chaeruman dalam tulisannya[6]
mengutip tulisan Prof. Yusuf Hadi Miarso bahwa ontology teknologi pendidikan
adalah sebagai berikut :
1) Adanya
sejumlah besar orang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang diperoleh
melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara mandiri.
2) Adanya
berbagai sumber baik yang telah tersedia maupun yang dapat direkayasa, tapi
belum dimanfaatkann untuk keperluan belajar.
3) Perlu
adanya suatu proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk
menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap
orang dan organisasi.
4) Perlu
adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan
memanfaatkan sumber untuk belajar tersebut secara efektif, efisien, dan
selaras.
Masalah
pendidikan yang merupakan objek kajian ontology teknologi pendidikan. Sutau objek
yang tidak merupakan lingkup bidang pengetahuan lain, diantaranya :[7]
1. Adanya
berbagai sumber untuk belajar termasuk orang (penulis, buku, produser media,dan
lain-lain), pesan ( yang tertulis dalam buku atau tersaji lewat media), media
(buku, program televisi, radio), alat (jaringan
televisi, radio), cara-cara tertentu dalam mengolah /menyajikan pesan,
serta lingkungan dimana pendidikan itu berlangsung.
2. Perlunya
sumber-sumber tersebut dikembangkan, baik secara konseptual maupun secara
factual.
3. Perlu
dikelolanya kegiatan pengembangan, maupun sumber-sumber untuk belajar itu agar
dapat digunakan secara seoptimal mungkin guna keperluan belajar.
Berdasarkan
beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa teknologi pendidikan
dalam posisi ini sebagai bagian pengembangan untuk memudahkan hubungan siswa
atau peserta didik dengan dunia lingkungannya. Peserta didik, baik di
masyarakat atau di sekolah selalu menghadapi realita dan obyek pengalaman.
B.
Epietemologi
Teknologi Pendidikan
Epistomologi
atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan,
pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas
pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.
Pandangan
epistemologi tentang pendidikan akan membahas banyak persoalan-persoalan
pendidikan, seperti kurikulum, teori belajar, strategi pembelajaran, bahan atau
sarana-prasarana yang mengantarkan terjadinya proses pendidikan, dan cara
menentukan hasil pendidikan.
Serangakaian
pertanyaan lain muncul : “ bukankah ilmu pendidikan dan komunikasi
mempersoalkan objek garapan yang sama ?” apakah ada sesuatu yang menelaah ,yang
sifatnya khas (unik) dan berusaha
menghimpun hasil telaahnya kedalam suatu kontruksi baru?” pertenyaan itu
mengandung kebenaran, namun tidak sepenuhnya. Ilmu pendidikan melalui
pendekatannya yang tradisonal mempersolakan media audiovisual sebagai alat
bantu guru dalam memberikan pelajaran. Padahal telah diketahui bahwa media
mampu itu menyajikan ajaran tanpa harus melalui guru, bahkan bila dirancang dan
memanfaatkan dengan baik media itu dapat membelajarkan. Ilmu pendidikan secara
keseluruhan beurasaha menelaah objek itu sendiri dari sudut pandang kelimuan
lain, atau bahwa objek itu dipandang secara terpisah-pisah dan berdiri sendiri.
Ilmu komunikasi memang mempersoalkan
media sebagai produk dari disiplin kelimuanya, terutama dalam bentuk perangkat
lunak. Perangkat kerasnya merupakan produk ilmu kerekayasaan, karena itu ada di
luar disiplin ilmu. Jadi ilmu komunikasi, sperti halnya ilmu pendidikan,
memandang objek telaah secara terpisah-pisah. Ilmu komunikasi juga tidak
mempersoalkan bagaimana media komunikasi itu dikelola agar dapat terjadi tindak
belajar.
Dengan demikian jelas bahwa
diperlukan sudut pandang atau pendekatan yang baru. Ciri-ciri pendekatan baru
itu adalah :[8]
1. Keseluruhan
masalah belajar dan upaya pemecahannya telah ditelaahsecara simultan. Semua
situasi yang ada diperhatikan dan dikaji saling kaitannya, dan bukannya dikaji
secara terpisah-pisah.
2. Unsure-unsur
yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara
sistematik, yaitu dirancang, dikembangkan, dinilai, dan dikelola sebagai suatu
kesatuan, dan ditujukan untuk memecahkan masalah.
3. Penggabungan
kedalam proses yang kompleks dan perhatian secara menyeluruh, harus mengadung
daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal di mana masing-masing fungsi
berjalan sendiri-sendiri.
Ketiga ciri diatas merupak teknik
intelektual yang unik, yang tidak dilakukan oleh masing-masing disiplin ilmu
yang telah ada sebelumnya. Teknik intelektual yang unik itu dihimpun dalam
suatu landasan epistemology teknologi pendidikan.
C.
Aksiologi
Teknologi Pendidikan
Menurut
Wijaya Kusumah dalam kajian aksiologi, yaitu apa nilai / manfaat pengkajian
teknologi pendidikan bisa diaplikasikan dalam beberapa hal, diantaranya
1.
Peningkatan mutu pendidikan (menarik, efektif, efisien, relevan)
2.
Penyempurnaan system Pendidikan
3.
Meluas dan meratnya kesempatan serta akses pendidikan
4.
Penyesuaian dengan kondisi pembelajaran
5.
Penyelarasan dengan perkembangan lingkungan
6.
Peningkatan partisipasi masyarakat
Presidential
Communission on Instrucsional Technology yang dibetuk oleh Pemerintah dan dewan
Perwakilan AmerikaSerikat pada tahun 1969, menyimpulkan kegunaan potensial
teknolgi sebagai berikut:[9]
1. Meningkat
produktivitas pendidikan dengan jalan:
a. Memperlaju
penambahan belajar.
b. Membantu
guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik.
c. Mengurangi
beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina
dan mengembangkan kegairahan belajar anak.
2. Memberikan
kemungkinanpendidikan yang sifatnya lebih individual,dengan jalan:
a. Mengurangi
control guru yang kaku dan tradisional.
b. Memberi
kesempatan anak berkembang seuai kemampuanya
3. Memberikan
dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan jalan:
a. Perencanaan program pengajaran yang lebih
sistematis.
b. Pengembangan
bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang prilaku.
4. Lebih
memantapkan pengajaran, dengan jalan:
a. Meningkatkan
kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi
b. Penyajian
informasi dan data secara lebih konkret.
5. Memungkin
belajar secara lebih akrab karena dapat:
a. Mengurangi
jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah.
b. Memberikan
pengatahuan tangan pertama
6. Memungkinkan
penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutam dengan jalan:
a. Pemanfaatan
tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas.
b. Penyajian
informasi menebus batas geografis.
Dalam
hal ini Teknologi Pembelajaran secara
aksiologis akan menjadikan pendidikan menjadi:
a. Produktif
b. Ilmiah
c. Individual
d. Serentak
/ actual
e. Merata
f. Berdaya
serap tinggi[10]
Teknologi
Pembelajaran juga menekankan pada nilai bahwa kemudahan yang diberikan oleh
aplikasi teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat yang dipilih dan dirancang
strategi penggunaannya agar menumbuhkan sifat bagaimana memanusiakan teknologi
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Teknologi pendidikan
dalam posisi ini sebagai bagian pengembangan untuk memudahkan hubungan siswa
atau peserta didik dengan dunia lingkungannya. Peserta didik, baik di
masyarakat atau di sekolah selalu menghadapi realita dan obyek pengalaman.
a.
Adanya sejumlah besar orang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang
diperoleh melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara
mandiri.
b.
Adanya berbagai sumber baik yang telah tersedia maupun yang dapat direkayasa,
tapi belum dimanfaatkann untuk keperluan belajar.
c.
Perlu adanya suatu proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk
menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap
orang dan organisasi.
d.
Perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan
dan memanfaatkan sumber untuk belajar tersebut secara efektif, efisien, dan
selaras.
B. Saran
Dengan
mengetahui secara singkat tentang filsafat teknologi pendidikan, maka
diharapkan kepada pembaca khususnya mahasiswa agar dapat menggunakannya dalam
megembangkan dunia pendidikan yang baik. Dan untuk menambah wawasan yang lebih
luas lagi, sebaiknya kita melengkapi dengan berbagai referensi lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar