Minggu, 27 September 2015



Ujian Akhir Semester

FILSAFAT TEKNOLOGI PENDIDIKAN

Nama              : Mutia
Nim                 : 8146121028
Kelas               : A1
Mata kuliah    : Teori Belajar dan Pembelajaran
Prodi               : Teknologi Pendidikan







PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2014/2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Kemajuan teknologi ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan social dan cultural, perubahan persepsi dan anspirasi, selain sangat cepat berkembang, sering juga sangat fundamental, tidak mudah diikuti oleh ilmu pendidikan tradisional. Sebagaimana kata filosuf, bahwa dunia ini selalu berubah dan berkembang, kecuali perubahan itu sendiri. Masyarakat menjdai semakin dinamis, ilmu berkembang semakin hebat, teknologi semakin canggih. System kependidikan kiranya perlu ditinjau dan diserasikan lagi na mengahdapi berbagai tugas-tugas yang semakin komplek. Guru bukan merupakan satu-satunya sumber belajar. Karena di luar itu, masih banyak sumber belajar  yang lain yang dapat diakses oleh siswa, sperti Koran, radio, televise, internet,dan masyarakat langsung.
Pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan merupakan issue penting yang perlu ditanggapi dengan penuh kecermatan, baik dalam sikap maupun dalam langkah. Sehingga kita tidak terjebak secara latah memakai teknologi canggih dan atau sebaliknya apriopi terhadap pemakaian teknologi. Oleh karena dalam itu dalam langkah dan sikap ini perlu kiranya tetap dijaga agar peran teknologi adalah tetap sebagai alat dan bukan sebagai tujuan.
Pendidikan merupakan investasi yang paling utama bagi setiap bangsa, apalagi bagi bangsa yang sedang berkembang, yang giat membangun negaranya. Pembangunan hanya dapat dilakukan oleh manusia yang dipersiapkan melalui pendidikan. Dalam zaman kemajuan ilmu pengetahuan ini para ahli berusaha untuk meningkatkan pengajaran itu menjadi suatu ilmu atau science. Dengan metode mengajar yang ilmiah diharapkan, proses belajar mengajar itu lebih terjamin keberhasilannya. Inilah yang sedang diusahakan oleh teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan memberi pendekatan yang sistematis dan kritis tentang proses belajar mengajar. Teknologi pendidikan memandangnya sebagai suatu masalah yang harus dihadapi secara rasional dengan menerapkan metode pemecahan masalah. Penerapan Teknologi di lembaga pendidikan merupakan jawaban persoalan yang sekarang ini dialami oleh dunia pendidikan kita. Sebagai salah satu bagian dari sistem yang ada, teknologi pendidikan sebenarnya adalah suatu cara atau teknis bagaimana agar anak didik secara maksimal mampu menyerap ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh guru-gurunya atau anak dengan cara belajar dari proses alam sekitarnya
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini bagaimanakah filsafat teknologi pendidikan ? 
C.      Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat penulisan dalam makalah ini adalah agar dapat mengetahui filsafat teknologi pendidikan.
D.      Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat penulisan dalam makalah ini untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembaca tentang filsafat teknologi pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Ontologi Teknologi Pendidikan
Istilah tekonologi berasal dari bahasa Yunani: technologi. Technice berarti seni, keahlian atua sains, dan logos berarti ilmu. Teknologi menurut Gaibraith dapat diartikan dapat diartikan sebagai penerapan sistematik dari pengetahuan ilmiah atau terorganisasikan dalam hal-hal yang praktis. Teknologi pendidikan dalam arti yang sempit bias merupakan media pendidikan, yaitu hasil teknologi pendidikan sebagai alat bantu dalam pendidikan, yaitu hasil teknologi sebagai alat bantu dalam pendidikan agar berhasil guna, efesien dan efektif.[1]
Sedang dalam arti luas menurut Association for Educational Communication and Technology (AECT) adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari problem solving, melaksanakan evaluasi dan mengelola pemencahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia.[2]
Teknologi pendidikan beroperasi dalam konteks masyarakat yang lebih luas; membantu profesi yang berkenaan dengan penggunaan dan penerapan teknologi. Lebih jauh sebagai profesi, teknologi berpihak pada sikap kemandirian dan kebebasan intelektual, berpihak pada tindakan yang legal, menentang bahan-bahan yang bersifat klise, dan berpihak pada usaha mengarah teknologi untuk membantu usaha manusia dalam memenuhi tujuan hidupnya.[3]
Teknologi pendidikan bergerak dalam keseluruhan bidang pendidikan. Dalam hubungannya dengan profesi lain yang bergerak di bidang pendidikan, teknologi pendidikan mengusahakan terciptanya keseimbangan dan hubungan kerja sama yang selaras di antara berbagai profesi ini.[4]
Kurikulum teknologi berorientasi ke masa depan yang memandang teknologi sebgai dunia yang dapat diamati serta diukur secara pasti. Oleh karena itu dalam pendidikan lebih mengutamakan penampilan perilaku lahirnyaatau eksternal dengan penerapan praktis hasil penemuan-penemuan ilmiah yang secara karakteristik menuju kea rah komputerisasi program pengajaran yang ideal sesuai dengan prinsip-prinsip Gybeructis.
Dalam proses belajar mengajar, model teknologi pendidikan lebih menitik beratkan kemampuan siswa secara individual dimana materi pelajaran sesuai ketingkatan kesiapan sehingga siswa mampu menunjukan perilaku tertentu yang diharapkan.
Manfaat yang sangat besar dari model kerikulum teknologi ini adalah materi pelajaran dapat disajikan kepada siswa dalam berbagai bentuk multimedia, para siswa menerima pelajaran seperti pada model pendidikan klasikal, tetapi para siswa lebih yakin dalam menangkap pelajarannya karena penyajian pelajaran lebih hidup, lebih realistis serta lebih impresif.[5]
Secara tersusun Chaeruman dalam tulisannya[6] mengutip tulisan Prof. Yusuf Hadi Miarso bahwa ontology teknologi pendidikan adalah sebagai berikut :
1)      Adanya sejumlah besar orang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang diperoleh melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara mandiri.
2)       Adanya berbagai sumber baik yang telah tersedia maupun yang dapat direkayasa, tapi belum dimanfaatkann untuk keperluan belajar.
3)      Perlu adanya suatu proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap orang dan organisasi.
4)      Perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan memanfaatkan sumber untuk belajar tersebut secara efektif, efisien, dan selaras.
Masalah pendidikan yang merupakan objek kajian ontology teknologi pendidikan. Sutau objek yang tidak merupakan lingkup bidang pengetahuan lain, diantaranya :[7]
1.      Adanya berbagai sumber untuk belajar termasuk orang (penulis, buku, produser media,dan lain-lain), pesan ( yang tertulis dalam buku atau tersaji lewat media), media (buku, program televisi, radio), alat (jaringan  televisi, radio), cara-cara tertentu dalam mengolah /menyajikan pesan, serta lingkungan dimana pendidikan itu berlangsung.
2.      Perlunya sumber-sumber tersebut dikembangkan, baik secara konseptual maupun secara factual.
3.      Perlu dikelolanya kegiatan pengembangan, maupun sumber-sumber untuk belajar itu agar dapat digunakan secara seoptimal mungkin guna keperluan belajar.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa teknologi pendidikan dalam posisi ini sebagai bagian pengembangan untuk memudahkan hubungan siswa atau peserta didik dengan dunia lingkungannya. Peserta didik, baik di masyarakat atau di sekolah selalu menghadapi realita dan obyek pengalaman.
B.       Epietemologi Teknologi Pendidikan
Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia.
Pandangan epistemologi tentang pendidikan akan membahas banyak persoalan-persoalan pendidikan, seperti kurikulum, teori belajar, strategi pembelajaran, bahan atau sarana-prasarana yang mengantarkan terjadinya proses pendidikan, dan cara menentukan hasil pendidikan.
Serangakaian pertanyaan lain muncul : “ bukankah ilmu pendidikan dan komunikasi mempersoalkan objek garapan yang sama ?” apakah ada sesuatu yang menelaah ,yang sifatnya khas (unik)  dan berusaha menghimpun hasil telaahnya kedalam suatu kontruksi baru?” pertenyaan itu mengandung kebenaran, namun tidak sepenuhnya. Ilmu pendidikan melalui pendekatannya yang tradisonal mempersolakan media audiovisual sebagai alat bantu guru dalam memberikan pelajaran. Padahal telah diketahui bahwa media mampu itu menyajikan ajaran tanpa harus melalui guru, bahkan bila dirancang dan memanfaatkan dengan baik media itu dapat membelajarkan. Ilmu pendidikan secara keseluruhan beurasaha menelaah objek itu sendiri dari sudut pandang kelimuan lain, atau bahwa objek itu dipandang secara terpisah-pisah dan berdiri sendiri.
            Ilmu komunikasi memang mempersoalkan media sebagai produk dari disiplin kelimuanya, terutama dalam bentuk perangkat lunak. Perangkat kerasnya merupakan produk ilmu kerekayasaan, karena itu ada di luar disiplin ilmu. Jadi ilmu komunikasi, sperti halnya ilmu pendidikan, memandang objek telaah secara terpisah-pisah. Ilmu komunikasi juga tidak mempersoalkan bagaimana media komunikasi itu dikelola agar dapat terjadi tindak belajar.
            Dengan demikian jelas bahwa diperlukan sudut pandang atau pendekatan yang baru. Ciri-ciri pendekatan baru itu adalah :[8]
1.      Keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya telah ditelaahsecara simultan. Semua situasi yang ada diperhatikan dan dikaji saling kaitannya, dan bukannya dikaji secara terpisah-pisah.
2.      Unsure-unsur yang berkepentingan diintegrasikan dalam suatu proses kompleks secara sistematik, yaitu dirancang, dikembangkan, dinilai, dan dikelola sebagai suatu kesatuan, dan ditujukan untuk memecahkan masalah.
3.      Penggabungan kedalam proses yang kompleks dan perhatian secara menyeluruh, harus mengadung daya lipat atau sinergisme, berbeda dengan hal di mana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri.
Ketiga ciri diatas merupak teknik intelektual yang unik, yang tidak dilakukan oleh masing-masing disiplin ilmu yang telah ada sebelumnya. Teknik intelektual yang unik itu dihimpun dalam suatu landasan epistemology teknologi pendidikan.  
C.      Aksiologi Teknologi Pendidikan
Menurut Wijaya Kusumah dalam kajian aksiologi, yaitu apa nilai / manfaat pengkajian teknologi pendidikan bisa diaplikasikan dalam beberapa hal, diantaranya
1.      Peningkatan mutu pendidikan (menarik, efektif, efisien, relevan)
2.      Penyempurnaan system Pendidikan
3.      Meluas dan meratnya kesempatan serta akses pendidikan
4.      Penyesuaian dengan kondisi pembelajaran
5.      Penyelarasan dengan perkembangan lingkungan
6.      Peningkatan partisipasi masyarakat
            Presidential Communission on Instrucsional Technology  yang dibetuk oleh Pemerintah dan dewan Perwakilan AmerikaSerikat pada tahun 1969, menyimpulkan kegunaan potensial teknolgi sebagai berikut:[9]
1.      Meningkat produktivitas pendidikan dengan jalan:
a.       Memperlaju penambahan belajar.
b.      Membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik.
c.       Mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar anak.
2.      Memberikan kemungkinanpendidikan yang sifatnya lebih individual,dengan jalan:
a.       Mengurangi control guru yang kaku dan tradisional.
b.      Memberi kesempatan anak berkembang seuai kemampuanya
3.      Memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah, dengan jalan:
a.        Perencanaan program pengajaran yang lebih sistematis.
b.      Pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang prilaku.
4.      Lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan:
a.       Meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi
b.      Penyajian informasi dan data secara lebih konkret.
5.      Memungkin belajar secara lebih akrab karena dapat:
a.       Mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah.
b.      Memberikan pengatahuan tangan pertama
6.      Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutam dengan jalan:
a.       Pemanfaatan tenaga atau kejadian yang langka secara lebih luas.
b.      Penyajian informasi menebus batas geografis.
Dalam hal ini Teknologi Pembelajaran  secara aksiologis akan menjadikan pendidikan menjadi:
a.       Produktif
b.      Ilmiah
c.       Individual
d.      Serentak / actual
e.       Merata
f.       Berdaya serap tinggi[10]
Teknologi Pembelajaran juga menekankan pada nilai bahwa kemudahan yang diberikan oleh aplikasi teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat yang dipilih dan dirancang strategi penggunaannya agar menumbuhkan sifat bagaimana memanusiakan teknologi







BAB III
PENUTUP  
A.      Kesimpulan
Teknologi pendidikan dalam posisi ini sebagai bagian pengembangan untuk memudahkan hubungan siswa atau peserta didik dengan dunia lingkungannya. Peserta didik, baik di masyarakat atau di sekolah selalu menghadapi realita dan obyek pengalaman.
a.       Adanya sejumlah besar orang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang diperoleh melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara mandiri.
b.      Adanya berbagai sumber baik yang telah tersedia maupun yang dapat direkayasa, tapi belum dimanfaatkann untuk keperluan belajar.
c.       Perlu adanya suatu proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap orang dan organisasi.
d.      Perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan memanfaatkan sumber untuk belajar tersebut secara efektif, efisien, dan selaras. 
B.   Saran
Dengan mengetahui secara singkat tentang filsafat teknologi pendidikan, maka diharapkan kepada pembaca khususnya mahasiswa agar dapat menggunakannya dalam megembangkan dunia pendidikan yang baik. Dan untuk menambah wawasan yang lebih luas lagi, sebaiknya kita melengkapi dengan berbagai referensi lain.


[1]  Fatah syukur, Teknologi Pendidikan, (Semarang: Rasail Media Group, 2008), h. 3.
[2]  Ibid.
[3]  Tim Universitas Terbuka, Definisi teknologi Pendidikan, ( Jakarta: Rajawali), h. 7.
[4]  Ibid.
[5]Prawiradilaga dkk. Mozaik Teknologi Pendidikan, (Jakarta : Kencana 2008)
[6]http://fakultasluarkampus.net, di akses 02 Desember 2014.
[7]  Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana , 2004) h. 106.
[8]Ibid., h.108.
[9] Ibid., h. 109.
[10] Davil H. Jonassen, Tekonologi Pembelajaran dengan suatu pendekatan Perspektif (Construktif) H.47