PERHATIAN
ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK
A.
Hakikat
Orang tua
1.
Pengertian
Orang Tua
Orang tua merupakan pendidik utama terhadap
pendidikan anak-anak, secara umum orang tua memegang peranan penting terhadap
keberhasilan setiap generasi selanjutnya. Hal ini senada dengan yang
diungkapkan oleh Bukhari Umar yang mengatakan orang tua adalah orang yang
paling berpeluang mempengaruhi peserta didik.
Karena orang tua yang paling awal bergaul dengan anak-anak.
Orang tua (ayah
dan ibu) terikat dalam sebuah ikatan yang halal menurut agama Islam yang harus siap
menjalani kehidupan bersama selamanya dalam
keadaan duka maupun suka dan sama-sama memikul tanggungjawab bersama
dalam menjalankan kehidupan berumah tangga untuk dapat berpikir jauh kedepan,
karena orang yang sudah berumah tangga akan diberikan amanah yang harus
dilaksanakan dengan baik sesuai dengan perintah agama, amanah terbesar adalah
mengurus serta membina anak-anak dengan membekali pengetahuan kepada anak
karena orang tua merupakan pendidik yang pertama dan utama.
Adapun
pengertian lain orang tua adalah pendidik sejati dan pendidik pertama karena
secara kodrati anak manusia dilahirkan oleh orang tuanya (ibunya) dalam keadaan
tidak berdaya. Hanya dengan pertolongan dan layanan orang tua (terutama ibu)
bayi (anak manusia) itu dapat hidup dan berkembang makin dewasa.
Hidup berumah tanggga tentunya ada perbedaan
antara suami dan istri, perbedaan dari pola pikir, perbedaan dari gaya dan
kebiasaan, perbedaan dari sifat dan tabiat, perbedaan dari tingkatan
ekonomi dan pendidikan, serta banyak lagi perbedaan-perbedaan lainya.
Perbedaan-perbedaan inilah yang dapat mempengaruhi gaya hidup
anak-anaknya, sehingga akan memberikan warna tersendiri dalam keluarga.
Perpaduan dari kedua perbedaan yang terdapat pada kedua orang tua ini akan
mempengaruhi kepada anak-anak yang dilahirkan dalam keluarga tersebut.
Dengan demikian seorang ayah dan
ibu, mereka memiliki kewajiban terhadap keberlangsungan hidup bagi
anak-anaknya, karena anak memiliki hak untuk diurus dan dibina oleh orang
tuanya hingga dewasa.
2.
Syarat-syarat
Menjadi Orang Tua
Orang tua merupakan cerminan bagi anak-anaknya dan
orang tua merupakan pendidik yang utama untuk anaknya, masa depan anak ada pada
tangan orang tua. Dengan demikian ada beberapa syarat untuk menjadi orang tua
sebagai penentu masa depan anak-anaknya, diantaranya:
a. Beriman
kepada Allah swt, sebagai umat Islam hendaknya ayah dan ibu sama-sama beriman
kepada Allah swt, sebagaiman firman Allah QS. Al-Baqarah (2): 221
وَلَا تَنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكَٰتِ
حَتَّىٰ يُؤۡمِنَّۚ وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ
أَعۡجَبَتۡكُمۡۗ وَلَا تُنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤۡمِنُواْۚ وَلَعَبۡدٞ
مُّؤۡمِنٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَكُمۡۗ أُوْلَٰٓئِكَ يَدۡعُونَ
إِلَى ٱلنَّارِۖ وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ وَٱلۡمَغۡفِرَةِ
بِإِذۡنِهِۦۖ وَيُبَيِّنُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٢١
Artinya: Dan janganlah kamu menikahi
wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang
mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan
janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin)
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang
musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah
mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil
pelajaran.
(Al-Baqarah :221)
b. Berilmu
dan berakhlak mulia, Islam memiliki pertimbangan dan ukuran tersendiri dengan
meletakkankannya pada dasar takwa dan akhlak serta tidak menjadikan kemiskinan
sebagai celaan dan tidak menjadikan kekeyaan sebagai pujian. Sebagaimana firman
Allah QS. An-Nur: 32
وَأَنكِحُواْ
ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ إِن
يَكُونُواْ فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ
عَلِيمٞ ٣٢
Artinya:
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang
layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu
yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan
kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui. (An-Nur:
32)
c. Mempunyai
sifat penyayang dan ikhlas terhadap anak, orang tua tidak boleh melakukan
kekerasan terhadap anak. Sifat penyayang orang tua akan berpengaruh terhadap
moral dan psikis anak.
3.
Tugas
dan tanggung jawab orang tua
Tugas
dan tanggung jawab orang tua pertama sekali adalah memberi pendidikan kepada
anak, membekali anak dengan pengetahuan-pengetahuan agama membentuk anak
menjadi insan yang beriman kepada Allah SW, berakhlak mulia dan rajin
beribadah. Selain itu orang tua bertanggungjawab memelihara, merawat,
melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik.
Mendidik
dan memelihara anak merupakan tugas dan tanggung jawab bersama-sama ayah dan
ibu (orang tua), seorang ibu sudah selayaknya berbicara kepada suaminya dengan
lemah lembut untuk mengajak bersama-sama mendidik dan mengasuh anak mereka.
Dalam pendidikan anak, seorang ayah menempati posisi yang sangat penting,
dikarenakan ayah adalah kepala rumah tangga. Seorang ayah tidak boleh melepas
tanggung jawab mendidik anak kepada istrinya (ibu) saja, sedangkan ia cukup
menyibukkan diri dengan bekerja. Meskipun sang ibu pada umumnya memiliki waktu yang lebih
banyak dan berinteraksi dengan anak-anak, tetapi tidak lantas membuat kedudukan
ayah menjadi kurang dibandingkan ibu. Bahkan jika diperhatikan, al-Qur’an lebih
sering menggambarkan proses pendidikan anak yang dilakukan oleh ayah daripada
ibu. Di dalam al-Qur’an, peran ibu lebih terkait dengan pengasuhan, sedangkan
penanaman nilai-nilai lebih banyak dilakukan oleh ayah. Hal ini mengisyaratkan
pentingnya kedudukan ayah dalam pendidikan anak.
Profil ayah yang
sangat peduli terhadap pendidikan anak salah satunya ditunjukkan oleh Luqmanul
Hakim. Luqman menyadari betul bahwa kesalamatan anaknya di akhirat lebih
penting daripada apapun, sehingga yang pertama kali diajarkannya adalah
mengingatkan agar anaknya jangan sampai mempersekutukan Allah.
Penelitian di
dunia psikologi
modern menunjukkan bahwa ternyata pola pengasuhan ayah memiliki peran yang
sangat penting dalam mebentuk kepercayaan diri dan kecerdasan anak di masa yang
akan datang.
Dengan demikian, perlu kiranya orang tua membgai perannya masing-masing sejak
dini, sehingga anak-anak bisa mengidentifikasi peran ayah atau ibunya.
Orang tua sebagai media bagi anak sudah
seyogyanya menunjukkan kepribadian yang baik didepan anak-anaknya, karena
anak-anak cenderung mengikuti perbuatan orang tuanya serta berpengaruh terhadap
perkembangan psikologi anak. Banyak orang tua yang menunjukkan sikap dan
prilaku yang berpengaruh buruk terhadap kepribadian anak-anak mereka. Berikut
ini beberapa contoh sikap dan prilaku orang tua yang berpengruh buruk terhadap
kepribadian anak.
a. Orang
tua yang oteriter, yaitu orang tua
yang cenderung ingin mengatur dan menguasai anak secara berlebihan. Mereka
selalu campur tangan dalam semua urusan anak, termasuk urusan yang kecil
selakipun. Akibatnya, anak tumbuh dengan kepribadian yang lemah dan rentan,
terutama ketika menghadapi masalah yang mengganggu jiwanya.
b. Orang
tua yang over-protektif, yaitu orang
tua yang selalu ingin mengambil alih semua tugas dan peran anak. Mereka juga
suka menuhi apa pun permintaan anak kerana khawatir anak mereka sedih atau
terluka. Sikap semacam ini akan menyebabkan anak mudah kehilangan kepercayaan
diri.
c. Orang
tua yang abai. Mereka cenderung membiarkan anak tumbuh tanpa
motivasi, didikan atau nasihat. Mereka pun tak pernah memuji atau memberi
imbalan atau hadiah kepada anak ketika ia melakukan kebaikan atau berhasil
meraih keinginannya. Mereka pun tak pernah menegur, memperingatkan, atau
menghukum ketika anak melakukan sesuatu kesalahan atau perbuatan yang tidak
baik.
d. Orang
tua yang suka memanjakan anak. Merka bersikap sangat terbuka dan longgar.
Setiap keinginan dan permintaan anak selalu mereka penuhi, dan mereka pun tak
pernah menegur atau memberi hukuman.
e. Orang
tua yang keras dan galak. Orang tua macam ini cenderung mendidik anak dengan
hukum fisik dan kekerasan.
f. Orang
tua yang lemah dan tidak punya pendirian. orang tua seperti ini cenderung tidak
pernah menunjukkan sikap yang konsisten menghadapi anak. Misalnya ia melarang
anaknya merokok tetapi ia sendiri merokok. Sikap seperti ini tentu akan membuat
anak-anak tumbuh diliputi rasa was-was dan gelisah . mereka pun cenderung tidak
mampu mengambil keputusan dengan baik ketika mengahdapi masalah.
g. Orang
tua yang pilih kasih kepada salah satu anak. Sikap orang tua semacam ini akan
yang merasakan tersisihkan. Mereka juga cenderung ingin membalas dendam atau
membenci saudaranya yang lebih diaksihi orang tua.
Orang tua
semestinya bersikap moderat dalam mendidik anak. Mereka tidak boleh berlebihan
memanjakan atau bersikap keras secara berlebihan. Ia juga harus menggauli dan mendidik
anak dengan penuh kasih sayang.
Sebagaimana anak
diibaratkan sebagai bibit tanaman yang akan tumbuh, berbuah dan hasilnya akan
dirasakan oleh orang banyak. Jika bibit itu bagus maka hasilnya juga akan
bagus. Begitu juga dalam kehidupan manusia jika orang tua menanamkan ilmu
pengatahuan yang baik kepada anak, mendidik anak sesuai dengan anjuran agama,
maka anak akan tumbuh sebagai insan yang baik yang selalu patuh terhadap
ketentuan agama, apa yang ditaman itulah yang akan dipetik hasilnya.
Banyak orang tua
yang mengeluh terhadap tingkah laku anaknya, karena anaknya tumbuh tidak sesuai
dengan yang diharapkannya, bahkan orang tua merasakan seolah-olah kehabisan
cara untuk mendidik anak. Abdullah Nashih Ulwan dalam kitabnya at-Tarbiyatul Aulad fi al-Islam
menawarkan metode dalam mendidik anak, diantaranya:
a. Mendidik
anak dengan keteladanan, dalam arti orang tua harus memberikan keteladanan atau
contoh yang baik kepada anak-anaknya. Jika orang tua menginginkan anaknya
menjadi anak yang shaleh maka orang tualah yang harus dulu shaleh.
b. Mendidik
anak dengan pembiasaan yang baik, dalam arti orang tua harus menanamkan
kebiasaan-kebiasaan baik kepada anaknya. Orang tua tidak bisa memakai prinsip,
“ ah nanti juga kalau sudah besar mereka tahu mana yang baik dan mana yang
tidak baik.” Mungkin mereka bisa tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik ,
tetapi mereka tidak mampu melaksanakan yang baik dan meninggalkan yang tidak
baik jika mereka tidak dibiasakan sejak kecil.
c. Mendidik
dengan mengajarkan ilmu pengatauhan dan dialog tentang berbagai persoalan.
Dalam hal ini amat penting orang tua mampu menanamkan pengertian kepada
anak-anaknya, dan dialog merupakan cara yang paling tepat, apalagi mereka yang
sudah memasuki usia remaja.
d. Mendidik
dengan memberikan pengawasan dan nasihat. Pada masa ini pengawasan dari orang
tua terhadap anak-anaknya sangat diperlukan sehingga orang tua tahu
perkembangan jiwa atau kepribadian anaknya dari waktu ke waktu. Jika orang tua
mengatahui perkembangan jiwa anaknya maka ia tahu nasihat apa yang harus
diberikan kepada mereka.
e. Mendidik
dengan membarika hukuman. Ini dilakukan dengan cara-cara yang lemah lembut yang
bersifat mendidik. Orang tua harus bersifat lembut namun harus tegas.
Orang tua
dituntut menjadi pendidik yang memberikan pengatahuan pada anak-anak dan
memberikan sikap serta keterampilan yang memadai, memimpin keluarga dan
mengatur kehidupannya,
memberikan contoh sebagai anggota ideal, bertanggung jawab dalam kehidupan
keluarga, baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Orang tua harus
mempersiapkan anak dan keturunannya agar mampu hidup dengan kuat setelah orang
tuanya meninggal dunia. Sesuai dengan tuntutan psikologis dan pedeagogis, orang
tua harus kreatif dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai pendidik yang
sejati.
Islam
menganjurkan kepada orang tua untuk mendidik
dan menjaga anak agar selamat dari api neraka, sebagaimana firman Allah
dalam surat at-Tahrim: 6
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ
وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ
مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim:6)
Tugas dan
tanggung jawab orang tua adalah mendidik anak secara islami, hendaknya orang
tua melaksanakan berdasarkan nash-nash al-Qur’an.
Firman Allah untuk konsep mendidik secara Islami, diantaranya QS. Luqman (31):
13-19
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ
وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ
عَظِيمٞ ١٣ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا
عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ
إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ
بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ
سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا
كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ١٥ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ
خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ
بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ١٦ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ
وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ
أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٧ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ
لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ
مُخۡتَالٖ فَخُورٖ ١٨ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ
أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ١٩
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar". Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah-
tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua
orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu
untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang
itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia
dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya
kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan)
seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi,
niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha
Halus lagi Maha mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah
(manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang
mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang
demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan
lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (Luqman:
13-19)
Berdasarkan ayat
diatas pendidikan yang harus diterapkan kepada anak-anak diantaranya:
a. Tidak
menyekutukan Allah
Luqman memerintahkan
petranya untuk tidak menyekutukan Allah karena hal itu merupakan kedzaliman
yang sangat besar. Allah adaalah Zat Yang Agung. Ia adalah Yang Menciptakan,
Yang memelihara dan memilki seluruh alam dan semua ini dilakukannya sendiri
tanpa merasa sedikitpun. Itu sebabnya mempersekutukan Allah di dalam Islam merupakan dosa besar yang
tidak diampuni jika pelakunya tidak bertaubat sebelum datangnya ajal.
Inilah pilar kehidupan
yang paling utama yang harus diajarkan orang tua kepada putra-putrinya. Sebab
semua perbuatan manusia dibangun oleh apa yang diyakininya. Dengan kata lain,
keyakinan atau keimanan merupakan pilar pembentuk akhlak seseorang. Keimanan
yang benar akan melahirkan perbuatan yang benar, begitu pula sebaliknya
keimanana yang salah akan menghasilkan perbuatan yang salah.
b. Bebakti
kepada orang tua
Manusia diperintahkan
untuk berbuat baik kepada orang tua, karena orang tua merupakan orang yang
paling berjasa bagi setiap anak, dari merawatnya, menyayanginya, memberi makan,
memberi pakaian, mendidik dan menjaganya dari bahaya. Tekanan ynag lebih besar
diberikan kepada anak untuk berbuat baik kepada ibunya . Hal ini karena
besarnya jasa dan pengorbanan ibu saat mengandung sang anak. Salah satu bentuk
berbuat baik kepada orang tua adalah dengan mematuhi perintah keduanya.
c. Segala
amal diperhitungkan
Setiap perbuatan akan
dibalas sesuai dengan besar kecilnya nilai perbuatan tersebut berdasarkan
keadilan Allah. Dalam nasehat yang singkat ini, terkandung beberapa makna. Pertama, bahwa betapapun kecilnya setiap
perbuatan pasti akan mendapat balasan dari Allah SWT. Oleh karena itu, jangna
pernah menganggap remah amal baik yang kecil, karena hal itu pasti akan
diperhitungkan Allah. Demikian juga jangan pernah menggangap remeh perbuatan
dosa betapapun kecilnya, karena Allah pasti akan memberikan balasannya juga. Kedua, bahwa Allah mengetahui segala
sesuatu hingga kebagian yang sekecil-kecilnya. Tidak adasesuatupun yang luput
dari pengetahuan Allah. Ketiga, hendaklah
bersikap ikhlas dalam melakukan kebaikan, janganlah mengharap balasan dari
manusia, tetapi berharaplah kepada Allah karena balasan seadil-adilnya hanya
datang dari Allah.
d. Mendirikan
shalat, menyeru kebaikan, mencegah kemungkaran, dan bersabar
Kewajiban utama yang
harus ditunaikan oleh manusia adalah kewajibannya kepada Allah, sedang yang
lain adalah kepada sesame manusia. Terhadap Allah penciptanya,manusia
diwajibkan untuk beribadah kepada-Nya dengan mendirikan shalat. Perintah shalat
menunjukkan bahwa ibadah shalat telah ada sebelum kedatangan Muhammad SWA. Hanya kita tidak tahu bagaimana
ritual shalat pada saat itu. Kewajiban yang kedua, yaitu anjurang untuk
mengaingat anak-anak agar menyeru kepada
kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran. Kesempurnaan dalam menunaikan kewajiban
beribadah dan berdakwah hanya diwujudkan dengan cara bersabar.
e. Rendah
hati adalah akhlak yang utama
Sombong atau takabur
adalah merasa dirinya besar. Karena mereasa diri besar, seseorang yang takabur
suka meremehkan orang lain dan tidak mau menerima kebenaran. Sifat ini dapat
membawa kepada bencana yang besar. Salah satu wujud agar menjauhkan diri dari
sifat sombong itu adalah sederhana dalam berjalan. Sebab, ketika berjalan,
sesorang dapat memperlihatkan kelebiha-kelebihan yang ada dalam dirinya, seperti
kegagahan dan kecantikannya atau kekayaan yang tercermin dari pakaiannya.
Berdasarkan uraian
ayat di atas program pendidikan yang pertama ditanamkan oleh orang tua terhadap
anak adalah pendidikan akidah, memperkenalkan Allah sebagai pencipta kepada anak.
Hal ini sejalan dengan anjuran untuk mengazani ditelinga anak yang baru lahir.
Dalam pendidikan akhlak hendaknya orang tua memberi pengetahuan kepada anak
untuk selalu berbakti kepada orang tua, karena orang tua yang melahirkan dan
yang membesarkan, ceritakan kepada anak gambaran perjuangan orang tua dalam
melahirkan dan mendidik serta mengasuh hingga anak tumbuh dewasa, mengenai hal
ini Sayyid Quthb berkata:
Pesan
kepada anak untuk berbuat bakti kepada orang tuanya berulang kali disebutkan
dalam al-Qur’an dan hadis Rasulullah. Sementara pesan kepada orang tua untuk
berbuat baik kepada anak hanya sedikit disebutkan, dan kebanyakan berkaitan
dengan kasus penguburan anak hidup-hidup. Sebab fitrah sendirilah yang memang
menjamin bahwa anak akan dirawat orang tuanya. Fitrah manusia terdorong untuk
merawat generasi baru yang sedang berkembang itu untuk menjaga keberlangsungan
hidup sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Orang tua pasti mengorbankan raga,
tenaga, umur, dan segala hal yang mereka miliki, tanpa menggerutu atau
mengeluh, bahkan tanpa menyadari dan merasakan pengorbanan yang dia berikan.
Kemudian orang
tua mengajarkan kepada anak rasa bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan
oleh Allah walaupun hanya sedikit tetapi tetap harus bersyukur dan selalu
mengucapkan Alhamdulillah, karena
kehidupan ini tidak selamanya berjalan dengan apa yang kita inginkan, oleh
sebab itu orang tua mengajarkan kepada anak rasa syukur, ikhlas, dan sabar, dan
mengajarkan anak pola hidup yang sederhana dalam segala hal, termasuk dalam hal
makanan, mendidik agar tidak sombong dengan apa yang dimiliki karena itu semua
bersifat sementara.
Selain itu orang
tua wajib mendidik anaknya untuk mengerjakan shalat, karena shalat adalah tiang
agama. Selain mendidik anak untuk melakukan shalat, orang tua hendaknya selalu memanjatkan doa untuk
anaknya agar anaknya menjadi insan yang selalu menegakkan shalat, sebagaimana
firman Allah dalam QS. Ibrahim (14): 40
رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ
وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ ٤٠
Artinya: Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan
anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami,
perkenankanlah doaku. (Ibrahim:40)
Orang tua mempunyai kewaiban untuk kepada anak-anak untuk melatih anak-anak
menyesuaikan segala kegiatannya dengan kewajiban beribadah kepada Allah,
terutama ibadah shalat. Ibadah shalat adalah ibadah pertama dan utama yang
harus ditanamkan kepada anak. Jangan biarkan anak-anak melalaikannya meski
mereka tengah asyik dengan kegiatannya.
Dasar-dasar tanggung
jawab orang tua terhadap pendidikan anaknya meliputi hal-hal berikut:
a. Adanya
motivasi atau dorongan cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dan anak.
Kasih sayang orang tua yang ikhlas dan murni akan mendorong sikap dan tindakan
rela menerima tanggung jawab untuk mengorbankan hidupnya dalam memberikan
pertolongan kepada anaknya.
b. Memberikan
motivasi kewajiban moral sebagai konsekuensinya kedudukan orang tua terhadap
keturunannya. Adanya tanggung jawab moral ini meliputi nilai-nilai agama atau
nilai-nilai spiritual. Menurut para
ahli, bahwa penanaman sikap beragama sangat baik pada masa anak-anak. Pada masa anak-anak (usia 3 samapai 6 tahun)
seorang anak memiliki pengalaman yang asli dan mendalam, serta mudah berakar
dalam diri dan kepribadiaannya. Hal tersebiut merupakan faktor yang sanagt
penting melibihi yang lain, karena pada saat itu anka mempunyai sifat wordering atau heran sebagai salah asatu
faktor untuk memperdalam pemahaman spiritual
reality.
Pada periode ini
peranan orang tua dirasakan sangat penting melalui pembiasaan, misalnya orang
tua mengajak anak-anaknya ke tempat-tempat ibadah, sebagai penanaman dasar yang
akan mengarahkan anak pada pengabdian yang selanjutnya, dan mampu menghargai kehadiran
agama dalam bentuk pengamalan dan pengamalan dengan penuh ketaatan. Dengan
demikian penanaman agama yang dimiliki anak sejak kecil ini betul-betul
tertanam dan berkesan pada dirinya.
c. Tanggung
jawab social adalah bagian dari keluarga yang pada gilirannya akan terjadi
tanggung jawab masyarakat bangsa dan Negara.
d. Tanggung
jawab social itu merupakan perwujudan kesadaran tanggung jawab kekeluargaan
yang dibina oleh darah, keturunan dan kesatuan keyakinan.
e. Memelihara
dan membesarkan anaknya. Tanggung jawab ini merupakan dorongan alami untuk
dilaksanakan, karena anak memmerlukan makan, minum, dan perawatan, agara hidup
secra berkelanjutan. Disamping itu ia bertanggung jawab dalam hal menjamin dan
melindungi kesehatan anakny, baik secra jasmaniah maupun rohaniah dari berbagai
gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan diri anak
tersebut.
f. Memberikan
pendidikan dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi
kehidupan anak kelak, sehingga bila ia telah dewasa akan mampu mandiri.
Demikian lah
beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai tanggung jawab orang tua terhadap
anaknya, terutama dalam konteks pendidikan. Kesadaran akan tanggung jawab
mendidik dan membina anak secara terus menerus perlu dikembangkan kepada setiap
orang tua, sehingga pendidikan yang dilakukan tidak lagi berdasarkan kebiasaan
yang dilihat dari orang tua, tapi telah didasari oleh teori-teori pendidikan
modern, sesuai dengan perkembangan zaman.
B. Hakikat Pendidikan Anak
1. Pengertian Pendidikan dan
Anak
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh manusia,
karena dengan pendidikan kita bisa menjalani kehidupan yang baik sehingga
terciptanya suatu keadaan hidup yang sejahtera. Oleh sebab itu setiap anak-anak
yang merupakan genarasi bangsa harus mempunyai pendidikan yang baik. Himat
dalam Manajen pendidikan mengatakan bahwa:
Pendidikan dari segi bahasa mempunyai arti dari
kata dasar didik, dan diberi awalan men, menjadi mendidik, yaitu kata kerja yang artinyamemelihara dan memberi
latihan (ajaran). Pendidikan sebagai kata benda berarti
proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Pendidikan
yaitu pendewasaan diri melalui pengajaran dan latihan.
Adapun selain
pendapat Hikmat, Hasbullah mengartikan pendidikan sebagai usaha
manusia untuk membina keperibadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam
masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau peadagogie berarti bimbingan atau
pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi
dewasa.
Selain
itu pendidikan juga mempunyai arti usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk
memotivasi, membina, menbantu, serta membimbing seseorang untuk mengembangkan
segala potensinya sehingga ia mencapai kualitas diri yang lebih baik. Inti dari
pendidikan adalah usaha pendewasaan manusia seutuhnya (lahir dan batin), baik
oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri, dalam arti tuntutan yang menuntut
agar anak didik memilki kemerdekaan berpikir, merasa, berbicara, dan bertindak,
serta percaya diri dengan penuh rasa tanggung jawab dalam setiap tindakan dan
perilaku kehidupannya sehari-hari.
Dengan demikian pendidikan merupakan usaha
yang dilakukan seseorang untuk
membimbing serta membina perkembangan serta pertumbuhan psikis maupun fisiknya
dan memanusiakan manusia.
Iistilah anak
mengandung arti bahwa anak sejak sampai usia lebih kurang 12 tahun merupakan
amanah yang akan dipertanggung jawabkan untuk memperkenalkan dan menenamkan dasar-dasar kehidupan dunia
akhirat. Sehingga terjemahan sebagai berikut:
A adalah amanah di mana orang tua,
guru dan masyarakat sadar tentang fungsi
amanah tersebut di depan Allah.
N adalah nilai dan norma yaitu amanah yang pokok yang harus dibina dan
ditanamkan dalam jiwa si anak dan dilatih adalah nilai-nilai keyakinan yang
diujudkan dalam kenyataan sesuai dengan norma-norma agama ayang dianutnya
sesuai acuan, aturan dan ukuran sebagai alat dalam merealisasikan.
A adalah akhlak moral, di mana orang tua, guru dan masyarakat menyadari
penting nya pembinaan latihan akhlak moral bagi anak.
K adalah kebahagiaan hidup, dimana
orang tua, guru dan masyarakat akan merasakan senang gembira, nyaman dan
bahagia, jika anak-anaknya berakhlak mulia. Kebahagiaan ini tidak hanya di
dunia, tetapi juga di akhirat kelak dapat berkumpul di syurga .
Pendidikan anak
merupakan usaha yang dilakukan orang tua untuk membimbing, mendidik, memelihara
anaknya untuk menjadi seorang insan yang beriman, berakhlak mulia yang berguna
bagi agama, nusa dan bangsa sesuia dengan anjuran pendidikan yang islam.
Pendidikan anak
merupakan suatu hal yang sangat penting di dalam Islam, karena anak merupakan
keturunan sebagai generasi bangsa dimasa yang akan datang. Jika orang tua
menerapkan pendidikan anak yang bagus maka anak akan tumbuh sebagai insan yang kamil.
2.
Periodesasi
pendidikan anak
Memberikan
pendidikan kepada anak-anak mempunyai periodesasinya sesuai dengan umurnya.
Adapun periodedasi dalam mendidik anak, diantaranya :
1. Fase
Prakonsepsi
Pendidikan
prakonsepsi merupakan awal dari suatu pernikahan atau disebut juga dengan
pemilihan jodoh, yaitu ketika seorang pria mencari seorang wanita yang dapat
menjadi teman hidupnya dan bekerja sama dalam membina rumah tangga bahagia.
Juga seorang wanita mencari calon suami yang memiliki intelegensi merupakan
sarana utama untuk memperoleh sukses dalam masyarakat luas.
Pernikahan
merupakan suatu hal yang selalu didambakan oleh manusia, yang bertujuan untuk
melaksanakan sunah Rasulullah, menciptakan dana menjaga keturunan untuk menjadi
generasi yang beriman dan yang berakhlak mulia serta mendambakan pernikahan
yang selalu dilandasi kabahagiaan dan kesejahteraan yang hakiki yang selalu
dilandasi rasa sayang dan cinta terhadap pasangan hidup. Dengan demikian disaat
memilih jodohpun menjadi hal utama dalam merancang kesuksesan pendidikan
terhadap generasi selanjutnya.
Memilih jodoh dalam Islam sangatlah penting, karena calon istri adalah
orang yang kelak tempat penyambaian benih dan akan menjadi ibu dan sekaligus
pendidik yang sangat besar pengaruh nya kepada anak yang akan dilahirkannya.
Dengan demikian seorang laki-laki harus memilih jodoh seorang perempuan yang
beriman serta taat kepada Allah dan Rasulullah, demi perkembangan anak dimasa
yang akan datang, karena anak merupakan generasi penerus bangsa dan negara.
Abdullah Ulwan
menyarankan bebrerapa hal dalam memilih jodoh, diantaranya:
a. Seseorang
memilih calon berdasarkan agamanya. Dalam perkawinan hendaknya calon pendamping
hidup mempunyai agama yang sama, serta cinta yang hakiki terhadap Islam dan
penerapan setiap keutamaan dan adapnya yang tinggi dalam perbuatan tingkah
laku.
b. Seseorang
memilih calon berdasarkan keturunan dan kemuliaan.
c. Memilih
calon dengan mengutamakan orang yang jauh (dari kerabatan) dalam perkawinan.
d. Seseorang
memilih calon dengan mengutamakan gadis.
e. Seseorang
memilih calon dengan mengutamakan wanita yang subur.
Pemilihan calon
istri atau suami berdasarkan kriteria tertentu dikarenakan keturunan
berpengaruh terhadap pendidikan anak. Anak merupakan generasi untuk masa depan,
anak adalah amanah yang dibebankan dan menjadi tanggung jawab orang tua. Oleh
karena itu, sudah sesogyanya orang tua mempersiapkan pendidikan sedini mugkin
untuk perkembangan kepribadian anak dimasa yang akan datang yang berlandaskan
aturan-aturan Islam yang selalu berpijak kepada sumber-sumber hukum Islam.
2. Fase
Pasca Konsepsi
Fase pasca
konsepsi yaitu fase perkembangan manusia yang dimulai dari pembuahan sperma dan ovum sampai masa kelahiran. Fase ini dibagi menjadi emapat fase,
diantaranya :
a. Fase
nutfah (zigot) yang dimulai sejak
pembuahan sampai usia 40 hari dalam kandungan.
b. Fase
‘alaqah (embrio) selama 40 hari,
c. Fase mughghah
(janin) selama 40 hari
d. Fase
peniupan ruh kedalam janin setelah genap empat bulan , yang man janin manusia
telah berbentuk secara baik, kemudian ditentukan hukum-hukum perkembangnnya,
seperti masalah-masalah yang dengan perilaku ( sifat, karakter, dan bakat),
kekayaan, batas usia, dan bahagia celakanya. Fase ini menunjukkan bahwa nyawa
kehidupan (al-hayah) telah ada sejak
adanya pembuahan, namun ruh baru ditiupkan setelah usia empat bulan dalam
kandungan. Ruh sifatnya substansi (jauhar),
sedang nyawa bersifat aksiden (‘aradh).
Sebagaiman firman Allah QS al-hajj: 5
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن
تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ
مُّخَلَّقَةٖ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ وَنُقِرُّ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ
مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا ثُمَّ
لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ
إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡٔٗاۚ وَتَرَى
ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ
وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۢ بَهِيجٖ ٥
Artinya:Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur),
Maka (ketahuilah) Sesungguhnya kami Telah menjadikan kamu dari tanah, Kemudian
dari setetes mani, Kemudian dari segumpal darah, Kemudian dari segumpal daging
yang Sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada
kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang
sudah ditentukan, Kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, Kemudian (dengan
berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada
yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai
pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya Telah
diketahuinya. dan kamu lihat bumi Ini kering, Kemudian apabila Telah kami
turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan
berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.(Al-Hajj: 5)
Fase pasca
konsepsi berlangsung sejak pertemuan sel telur seorang ibu dengan spermatozoid seorang ayah sampai seorang
bayi lahir secara sempurna. Masa pranatal ini sangat penting artinya karena ia
awal dari kehidupan.
Masa ini disebut juga dengan masa kehamilan. Fase ini merupakan fase yang lebih
pendek dari fase-fase yang lainnya, karena fase kehamilan hanya berlangsung
selama 9 bulan normal nya masa kehamilan, dan yang kurang dari 9 bulan atau
disebut premature.
Secara garis
besar pendidikan yang terjadi pada saat masa kehamilan tersebut adalah:
a. Harus
dipercayai bahwa pada masa awal terjadinya pengembangan untuk sebuah kehidupan,
perkembangan yang dari nutfah hingga mudhgah, kemudian menjadi seorang bayi,
dengan demikian nutfah itu sendiri
mengandung unsur kehidupan tidak mungkin ada perkembangan. Namun, perlu
dipahami bahwa pada masa ini masih bersifat biologis.
b. Berlanjut
dari proses awal kehidupan, setelah berbentuk sekarat daging yang berupa (mudhgah) Allah mengutus malaikat untuk
meniup ruh kepadanya. Maka sejak itu pula perubahan kehidupan bersifat biologis
menjadi kehidupan psikis.
Fase pasca
konsepsi hubungan janin sangat erat dengan ibunya, seorang ibu berkewajiban
memelihara kandungannya, diantaranya ibu menkonsumsi makanan yang
halal lagi baik serta bergizi, menjaga emosi dan perasaan sedih yang berlarut,
memperdengarkan janin ayat-ayat al-Qur’an dan pembentukan iman juga harus
dimulai sejak dalam kandungan sejalan dengan pertumbuhan kepribadian. Berbagai
hasil pengamatan pakar kejiwaan menunjukkan bahwa janin dalam kandungan telah
mendapat pengaruh dari keadaan dan sikap emosi ibu yang mengandungnya. Hal
tersebut dalam perawatan kejiwaaan, dimana keadaan keluarga ketika anak dalam
kandungan, mempunyai pengaruh terhadap kesehatan mental janin di kemudian hari. Untuk itu, bagi wanita yang hamil dianjurkan untuk
mengatur jumlah dan kualitas sesuai dengan kebutuhan diri dan anak yang ada
dalam kandungan, usahakan senantiasa menghirup udara yang bersih dan segar, melakukan
olah raga ringan, seperti jalan kaki, usahakan untuk selalu senantiasa gembira
dan jangan besedih. Hindari film-film atau pemandangan-pemandangan yang
meneganggakan dan menakutkan.
Tanggung jawab pada pada fase pasca konsepsi tidak hanya dibebankan kepada ibu saja, namun
seorang ayah juga bertanggung jawab dalam pendidikan dimasa kehamilan, ibu dan
ayah harus bekerja sama dalam memberikan pendidikan dan manjaga janin, ayah
harus memberi perhatian terhadap ibu yang sedang hamil, dikarenakan ibu hamil
sangat membutuhkan perhatian, meluangkan waktu untuk selalu bersama, hindari
pertengkaran-pertengkaran yang menganggu psikologi anak.
Dengan demikian orang tua hendaknya menanam pendidikan kepada anak sejak
anak masih di dalam kandungan, karena anak diciptakan dalam keadaan fitrah dan
bersih seperti kertas putih yang kosong.
3. Fase
Bayi
Masa
bayi ini berlangsung dari usia 0 samapi 3 tahun. Setelah anak lahir, perlu
dikumandangkan azan dekat telinganya, agar pengalaman pertama lewat pendengaran
adalah kalimat tauhid yang berintikan pengakuan dan keagungan Allah dan
kerasulan Muhammad. Ajaran dan kemenangan dan seruan untuk beribadah diakhiri
dengan pernyataan dan keagungan serta keesaan Allah. Bayi yang baru lahir
memang belum mengerti kata tauhid dalam azan tersebut, namun dasar keimanan dan
keislaman sudah masuk ke dalam hatinya.
Salah satu hukum
yang disyariatkan Islam bagi anak yang baru dilahirkan untuk mengazani di
telinga kananya, dan mengikamati di telinga kirinya, langsung pada saat
dilahirkan.
Anjuran mengazani anak yang baru lahir agar anak pertama sekali mendengar daan
merekam di dalam memori otaknya adalah kalimat-kalimat tauhid yang mengesakan
Allah dan pengakuan kerasulan Nabi Muhammad. Disinilah pertama sekali penanam
tauhid pada disi anak-anak.
Selain itu, lafaz suara azan dapat mengusir syaitan yang biasanya berkumpul
di sekitar bayi yang baru dilahirkan. Dengan tradisi inilah anak terpelihara
dari gangguan setan sejak pertam kali dilahirkan. Anak memulai kehidupannya
dengan kalimt tauhid sebagai pangkal ajaran Islam.
Selain anjuran mengazani dan mengiqamah anak-anak yang baru lahir, Islam
menganjurkan pula pemberian nama yang baik
kepada anak-anak, karena nama yang baik akan berpengaruh pada perkembangan psikologis
anak-anak. Dalam pemberian nama kepada bayi yang baru lahir ayah terikat dengan
sunnah Rasulullah saw. Nama memiliki dampak secar psikologis dan sosiologis
dalam perkembangan anak. Ayah dapat memperoleh pahala dari pemberian nama yang
sesuai dengan sunnah Rasul karena di samping memberikan yang terbaik bagi
anak-anaknya, secara otomatis ayah ikut kembali menghidupkan sunnah Rasulullah.
Sebagai seorang muslim alangkah baiknya orang tua memperdengarkan hal-hal
yang positif kepada bayi sebagai langkah awal untuk mendekatkan diri kepada
Allah seperti suara al-Qur’an, shalawat dan
nasyid-nasyid yang menggambarkan dukungan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Suara-suara
tersebut bila selalu didengar oleh bayi terus menerus memacu otaknya
untuk merespons suara-suara yang baik itu. Sebaliknya, jika bayi terbiasa
mendengar suara-suara yang tidak baik maka berpengaruh pula pada otaknya.
Orang tua
hendaknya melakukan komunikasi dengan bayi, mengajak bayi untuk berbicara
walaupun pada kodratnya bayi belum bisa berbicara, orang tua membiasakan
berkomunikasi yang baik dengan anak, bertutur dengan kata yang sopan, karena
apa yang diucapkan orang tua akan diikuti oleh anak.
Seorang anak
yang biasa mendengar hal-hal baik ketika masih kecil akan merangsang otaknya
berfungsi lebih baik. Sebagai contoh, penelitian menjelaskan bahwa suara musik
terutama music klasik termasuk diantaranya alunan musik shalawat dan lagu-lagu islami sangat memengaruhi perkembangan IQ (Intelegent Quotient) dan EQ (Emotional Quotient).
4. Fase
Kanak-kanak
Pendidikan
masa kanak-kanak berlangsung pada usia 3 samapi 12 tahun. Pada usia 3-6 tahun,
anak memiliki sifat egosentris (raja
kecil). Sebab, dirinya berada di pusat lingukungan yang ditampilkan anak dengan
sikap senang menantang atau menolak sesuatu yang datang dari orang sekitarnya.
Pada masa ini dibagi ketiga fase diantaranya:
a. Permulaan
masa anak-anak
Pada awal masa
ini sekitar usia 3-5 tahun. Perkembangan ini ditandai dengan munculnya sikap egosentris pada diri setiap anak. Masa
ini disebut dengan masa remaja kecil.
Masa ini juga merupakan krisis pertama yang sangat memerlukan kesabaran dan
kebijaksanaan bertindak dari orang tua sebagai pendidik. Orang tua hendaknya
tidak memaksa kehendaknya pada anak-anak, namun di dalam diri anak-anak harus
ditumbuhkan kebiasaan melakukan sesuatu yang baik dan dikenal disiplin.
Masa
ini juga sering disebut dengan masa etestika, masa indra, masa menentang orang
tua. Disebut dengan masa etestika karena pada masa itu merupakan saat
terjadinya perasaan keindahan. Anak-anak seusia ini senand dengan sesuatu yang
indah-ndah, berwarna-warni. Disebut dengan masa indra karena anak-anak pada
masa ini indranya berkembang pesat dan merupakan lanjutan dari perkembangan
lanjutan. Berkat kepesatan perkembangan itulah dia senang mengadakan eksplorasi
terhadap apa yang dia lihat. Kemudian disebut masa menentang karena dipengaruhi
oleh menonjolnya perkembangan berbagai aspek pisik-psikis, belum berfungsi
kontrol akal dan moral.
b. Pertengahan
masa anak-anak
Periode ini
berlangsung dari umur 6-9 tahun. Periode ini sangat penting artinya bagi
peletakan dasar untuk perkembangan selanjutnya melalui sekolah atau madrasah
sebagai lembaga pendidikan. Awal ini merupakan permulaan bagi anak-anak untuk
mengenal
orang dewasa di luar keluarganya.
c. Akhir
masa anak-anak
Masa ini
berlangsung pada usia 9-12 tahun. Masa ini merupakan lanjutan masa sebelumnya
yang ditandai dengan berbagai kematangan aspek psikologis yang diperlukan untuk
dapat ikut serta dalam proses pendidikan formal.
5. Fase
Remaja
Masa ini
berlangsung pada usia 12-21 tahun yang terdiri dari tiga fase, diantaranya:
a. Masa
pra-remaja
Fase ini
berlangsung dari umur 12-15 tahun. Fase ini ditandai dengan semakin
meningkatnya sikap sosial pada anak. Gejala yang dominan pada masa ini adalah
kecenderungan untuk bersaing yang berlangsung antarteman sebaya dan lingkungan
jenis kelamin yang sama. Pada peiode ini ada kesempatan yang sangat baik
untuk membantu anak, di samping menguasai ilmu intelektualnya juga menumbuhkan sikap
bertanggung jawab Islam.
Pada masa remaja,
anak biasanya banyak mengalami keguncangan dan putus asa karena mungkin gagal
mendapatkan penerimaan teman terhadap dirinya atau bisa juga karena perbedaan
dirinya dengan temannya. Oleh karena itu, remaja sangat memerlukan kasih
sayang, teman sepermainan, dan orang tuanya karena pada usia itu remaja
bergantung pada guru, orang tua, dan seseorang yang lebih tua darinya, baik
dari segi usia maupun dari segi kedudukan sosial.
b. Masa
pubertas
Masa ini
berlangsung pada usia 15-18 tahun. Masa ini merupakan tahap akhir bagi individu
dalam mempersiapkan dirinya untuk menjadi manusia dewasa yang berdiri sendiri.
Pada masa ini banyak mengalami krisis, namun krisis itu tidak akan dirasakan
berat jika sejak awal anak-anak dan para remaja telah hidup dalam keluarga yang
menempatkan ajaran Islam sebagai penuntunnya. Jika dalam diri remaja telah
tertanam nilai-nilai religi maka sebagai orang tua yang beriman, ia akan selalu
mampu menyikapi permasalahan hidup, baik yang muncul dari dalam maupun dari
luar dirinya.
c. Akhir
masa remaja
Masa ini
berlangsung antara usia 18-21 tahun dan disebut juga masa awal kedewasaan. Pada
masa ini, pembentukan dan perkembangan suatu sistem moral pribadi sejalan
dengan pertumbuhan pengalaman keagamaan yang bdersifat individual. Melalui
kesadaran beragama dan pengalaman ketuhanan, akhirnya remaja akan menentukan
Tuhannya yang berarti menemukan kepribadiannya.
Pada masa ini,
karakteristik perkembangan yang paling dominan adalah terbentuknya pandangan
hidup tertentu berdasarkan falsafah hidup yang didasari atau tidak didasari
telah menjadikan pengalaman dalam mengarungi kehidupan.
Pada fase remaja
ini sangat baik untuk membantu anak-anak guna menumbuhkan sikap bertanggung
jawab dan memahami nilai-nilai terutama yang bersumber dari agama Islam. Terlebih
mereka sudah terbiasa berdoa dan melakukan ibadah, serta menerapkan ketentuan
agama dalam kehidupan sehari-hari, sebagai bahan pembendung dan penanganan dini
sangat dibutuhkan ibarat besi belum berkarat, nasi belum menjdi bubur maka
beberapa langkah perlu dilakukan diantaranya:
1) Mengetahui
perubahan anak-anak yang sedang mengalami transisi dalam masa perkembangan.
2) Mengarahkan
merek untuk selalu pergi ke Masjid sejak kecil sehingga memilki disiplin
naluriah dan potensial oleh andil yang potensial oleh lingkungan rabbaniah.
3) Menanamkan
rasa percaya diri pada diri mereka dan siap mendengarkan pendapat-pendapat
mereka.
4) Menyarankan
mereka agar menjalani persahabtan dengan teman-teman yang baik.
5) Mengembangkan
potensi mereka disemua bidang yang bermanfaat.
6) Menganjurkan
mereka untuk berpuasa sunat karena hal itu dapat menjadi perisai dari
kebobrokal moral.
7) Membuka
dialog dan menyadarkan akan status sosial mereka.
8) Memberi
kesempatan untuk bisa berkarya dan berkreativitas sesuai dengan keingina mereka
dalam pengawasan orang tua.
9) Memberi
kesempatan mereka untuk memberi usulan terhadap bakat daan potensi yang
dimiliki.
Dengan ada beberapa
langkah diatas setidaknya kebiasaan yang baik akan membiasakan dan teraplikasi
dengan sendirinya pada jiwa dan pekerjaan anak-anak remaja ini. Dan hal inilah
yang sebenarnya yang dinginkan oleh setiap orang tua agar anak-anaknya kelak
terbiasa melakukan kebaikan tanpa adanya ancaman dan paksaan dari pihak
manapun, tidak orang tua, saudara lingkungan. Namun terlaksana karena kebiasaan
dan dari hati nurani.
6. Fase
Dewasa
Pada usia
biasanya seseorang sudah memiliki sifat kepribadian yang matang. Mereka sudah
memliki tanggung jawab terhadap sistem nilai yang terpilihnya, baik yang
bersumber dari norma-norma agama maupun yang berada dalam kehidupan ataupun
ajaran agama.
Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, orang tua
mengingingkan anak yang shaleh yang berbakti kepada orang tuanya, anak yang
selalu membahagiakan orang tuanya. Hal ini akan terwujud jika orang tua
memberikan pendidikan yang baik kepada anaknya, menanamkan ilmu pengetahuan
kepada anak, penggatahuan membantu dalam membangun kepribadian anak yang bijak.
Sebagai media pendidikan yang pertama terhadap anak, alangkah baiknya orang tua
menampakkan hal-hal yang baik pula kepada anak, sebagaimana kata pepatah bahwa
buah tidak jauh jatuh dari pohonnya.
3.
Metode
mendidik anak
a. Mendidik
melalui keteladanan
Pada dasarnya,
amnesia sangat cenderung memerlukan sosok teladan dan anutan yang mampu
mengarahkan manusia pada jalan kebenaran dan sekaligus menjadi perumpamaan
dinamis yang menjelaskan cara mengamal syari’at Allah.
Keteladanan merupakan
ruh dari pendidikan. Dengan demikian, pendidikan menjadi bermakana dan tanpa
keteladanan pendidikan hanyalah suatu indroktinasi dan kemunafikan. Keteladanan
merupakan metode yang sangat efektif . tidak jarang hanya dengan bekal
keteladanan, tanpa harus banyak berbicara, banyak orang untuk bergerak
melakukan Sesutatu. Sebaliknya, tanpa keteladanan, tujuan pendidikan akan sulit
diraih.
Rasulullah
merupakan teladan yang baik dan sejati yang harus kita contoh, oleh sebab itu
orang tua harus menanamkan kepada anak idola seorang muslim ialah Rasulullah.
Karena dewasa ini banyak lahir tokoh-tokoh yang diidolakan oleh anak yang tidak
sepantasnya perbuatannya dicontohkan. Kepribadian, karakter, perilaku dan
interaksi Rasulullah dengan manusia merupakan pengejawantahan hakikat
al-qur’an, etika dan hukum-hukum secara praktis, manusiawi, dan dinamis. Lebih
dari itu, akhlak beliau merupakan perwujudan landasan dan metode pendidikan
yang dapat di dalam al-Qur’an.
Keteladana tidak
hanya berlau dalam hal kebaikan. Dalam hal keburukan pun ada proses peneladanan
terhadap orang tuanya. Jika orang tua tidak mampu menunjukkan keteladanan yang
baik kepada anak, maka anak meneladani keburukan orang tuanya itu. Oleh karena itu orang tua harus menunjukkan
karakteristik yang baik agar anak tumbuh
menjadi insan yang baik.
b.
Mendidik
dengan nasihat
Metode memberi nasihat ini orang tua mempunyai kesempatan yang luas
untuk mengarahkan anak-anak kepada berbagai kebaikan dan kemaslahatan umat. Di
antaranya dengan menggunakan kisah kisah Qur’ani,
baik kisah Nabawi maupun umat terdahulu yang banyak mengandung pelajaran yang
dapat dipetik.
Aplikasi metode nasehat, diantaranya adalah, nasehat dengan argumen
logika, nasehat tentang keuniversalan Islam, nasehat yang berwibawa, nasehat
dari aspek hukum, nasehat tentang “amar ma’ruf nahi mungkar”, nasehat
tentang amal ibadah dan lain-lain. Namun yang paling penting, si pemberi nasehat
harus mengamalkan terlebih dahulu apa yang dinasehatkan tersebut, kalau tidak
demikian, maka nasehat hanya akan menjadi lips-service.
Metode mendidik melalui nasihat merupakan metode paling dasar di dalam
pendidikan. Dengan demikian orang tua jika anak melakukan kesalahan hendaknya
menegurnya dengan memberi nasihat agar anak tidak melakukan kesalahan kembali,
karena nasihat berupa perkataan yang baik akan selalu di ingat oleh anak.
c.
Metode
mendidik
dengan motivasi
Metode motivasi adalah metode dengan memberikan kata yang
mengandung makna suatu harapan untuk memperoleh kesenangan, kecintaan dan
kebahagiaan yang mendorong seseorang sehingga timbul harapan dan semangat untuk
memperolehnya. Metode ini akan
sangat efektif apabila dalam penyampaiannya menggunakan bahasa yang menarik dan
meyakinkan pihak yang mendengar.
Mendidik
anak melalui motivasi bisa berupa pujian yang diberikan kepada anak, walaupun
hanya sebatas ucapan namun pengaruhnya sangat besar untuk perkembangan
anak-anak. Seringnya orang tua mensehati anak baik dengan lemah lembut
maupundengan tegas tetapi anak tidak kunjung berubah, dikrenakan orang tua
jarang memuji anak ketika anak melakukan hal positif walaupun hal tersebut
sangat kecil.
Rasulullah
sering mendidik para sahabat dengan metode motivasi, dengan sebaris kalimat
yang singkat, Rasulullah mampu memotivasi seorang anak untuk mengerjakan suatu
amal kebajikan sepanjang hidup. Inilah yang dirasakan oleh sahabat-sahabat
beliau, Abdullah bin Umar alias Ibnu Umar.
Ibnu Umar bercerita, “ pada masa Rasulullah, ketika aku masih muda
dan belum menikah, aku sering tidur di masjid. Dalam tidurku aku bermimpi
seakan-akan ada dua malaikat yang membawa ku ke neraka.” Ibnu Umar kemudian
nmelanjutkan kisahnya, “kami didatangi oleh malaikat lain yang berkata, ‘kamu
jangan takut’.” Ibnu Umar menceritakan mimpinya itu kepada Hafshah, lalu
Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah SAW. Mendengar cerita itu, Rasulullah
bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah Abdullah, seandainya ia mengerjakan shalat
malam.”
Sejak
saat itu Ibnu Umar senantiasa tidur hanya sebentar di malam hari dan
memanfaatkannya untuk mengerjakan shalat malam.
Berilah
pujian ini secara wajar supaya anak memang mampu memilki sifat-sifat terpuji
itu dan tidak membuatnya menjadi sombong. Jangan lupa, bahwa perkataan orang
lain kepada anak seringkali mempengaruhi pandangan anak terhadap dirinya.
Pujian dalam hal ini akan membantu anak untuk mengidentifikasi siapa dirinya.
Jika seorang anak sering dipuji sebagai anak yang pintar. Lain halnya
sedikit-sedikit dibilang bodoh atau nakal, dia akan mengangap bahwa dirinya
memang demikian adanya.
Satu
hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa untuk bisa memberi efek perubahan
yang kuat kepada anak, orang tua harus menjadi pribadi yang mengagumkan nagi
anak terlebih dahulu.
4.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi pendidikan anak.
Faktor yang
paling penting yang sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak adalah orang
tua, karena orang tua sebagai pendidik yang pertama yang dikenal oleh anak.
Namun selain orang tua ada faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi
pendidikan anak, diantaranya adalah :
a. Saudara
dan kerabat anak
b. Teman-teman
anak, baik tetangga, di sekolah maupun di tempat-tempat perkumpulan lainnya
seperti tempat kursus hafalan al-qur’an dan lain sebagainya.
c. Guru
dan pengasuh anak
d. Media
massa, baik cetak maupun elektronik
e. Lingkungan
tempat tinggal anak, dengan moralitas, tradisi, etika, pandangan dan kondisi
yang ada di dalamnya.
f. Tempat-tempat
di mana anak sering menghabiskan waktunya seperti masjid atau di
tempat-tempat lainnya yang semuanya
dapat memberi pengaruh besar pada anak.
g. Tamu-tamu
yang datang kerumah dan orang-orang yang mengunjungi anak.
h. Kegiatan-kegiatan
rekreasi dan wisata yang diikuti anak.
Faktor-faktor
inilah yang turut memberikan pengaruh dalam pendidikan anak disamping orang
tua. Untuk itu orang tua harus memperhatikan dan mengarahkan faktor-faktor di
atas agar dapat mendatangkan manfaat bagi anak. Oleh karena itu, hal-ahal
berikut ini perlu diperhatikan :
1) Perilaku
anak terhadap saudara-saudaranya
Orang tua harus
mengontrol dan mengarahkan perilaku anak terhadap saudara-saudaranya. Tanamkan
dalam diri anak sikap menghormati orang lebih tua, menghargai teman sebaya,
berbicara dengan sopan serta lemah lembut,dan ajarkan pada orang yang lebih tua
untuk menyayangi anak. Selain itu orang tua juga harus tanamkan pada anaknya
untuk tidak saling mengolok-olok dan saling menghina.
2) Pisahkan
tempat tidur anak-anak
Memisahkan
tempat tidur anak-anak adalah penting, selain karena Rasulullah memerintahkan
demikian, juga karena dikhawatirkan muncul perilaku-perilaku asusila di antara
anak-anak. Tidak menutup kemungkinan, ketika anak-anak berada dalam satu tempat
tidur, aurat mereka terbuka, tubuh mereka saling bersentuhan bahkan saling
bertindihan, yang bisa saja mendorong munculnya pikiran-pikiran negatif ,
khususnya dikalangan anak yang baru beranjak dewasa.
3) Dorong
anak untuk memilih teman yang baik
Orang tua harus
mendorong anaknya untuk memilih teman dan sahabat yang bisa membawa manfaat
baik di dunia maupun di akhirat, dengan menjadikan orang-orang shaleh sebagai
teman serta menjauhi teman-teman yang baik.
Selain itu orang
tua juga harus memantau kegiatan anak yang dilakukan bersama teman-temannya,
tempat-tempat tongkrongan anak bersama teman-temannya, berikan masukan kepada
anak-anak ciri-ciri teman yang baik. Tidak sebatas itu saja, orang tua juga
harus mendidik anak cara bergaul dengan teman lawan jenisnya sesuai dengan
anjuran syari’at Islam.
Namun, orang tua dalam membimbing anak untuk
memilih temannya harus dengan cara yang baik, tidak dengan cara yang kasar
sehingga terkesan orang tua membatasi anak dalam bergaul dan berusaha untuk
menghargai teman-temannya agar mudah untuk mengarahkan anak dalam mencari
temannya. Buatlah pendekatan dengan anak-anak masukilah dunianya dan jadilah
sahabatnya sehingga kita mudah untuk membimbingnya dan mudah untuk mengawasi
anak-anak agar tidak melakukan hal-hal yang negatif.
4) Carilah
guru yang shaleh
Guru merupakan
pendidik yang menjadi media bagi murid-muridnya, apa yang dilakukan guru
merupakan teladan bagi murid-muridnya. Dengan demikian orang tua harus
memperhatikan guru bagi anak-anaknya. Carilah guru yang aqidahnya bagus,
beriman serta taat kepada Allah swt, dan mengajarkan anak-anak sesuai dengan
anjuran pendidikan Islam. Orang tua juga harus selalu mengevaluasi setiap ilmu
yang diajarkan oleh gurunya, karena dikhawatirkan ada guru yang menanamkan
ajaran aqidah yang salah sperti yang terjadi dewasa ini.
5) carilah
pembantu yang shaleh.
Peran pembantu
di rumah hampir sama dengan peran seorang ibu bagi anak-anaknya, mengurus
anak-anak, memberikan anak-anak makan serta menjadi teman bermain anak-anak
ketika anak-anak berada di rumah. Oleh sedab itu, orang tua juga harus
memperhatikan pembantu yang akan membantu tugas ibu dirumah.
6) Media
massa dan pengaruhnya
Media massa
semakin hari semakin berkembang pesat dan canggih mengikuti perkembangan zaman.
Penciptaan media massa tujuan utama untuk mempermudah mengakses informasi yang
terjadi di lingkungan hidup. Namun, media massa jika salah di gunakan juga akan
berdampak negatif bagi penggunanya baik itu media massa cetak maupun
elektronik. Terlebih media elektonik yang semakin canggih dan mudah untuk
didapatkan, seperti halnya handphone yang
didalamnya termuat segala aplikasi
yang canggih-canggih salah satunya, bisa magakses internet dengan mudah dan
cepat sehingga segala informasi mudah didapatkan oleh anak-anak. Selain itu yang sangat banyak digunakan
anak-anak sekarang yaitu games elektronik
yang mempunyai pengaruh negative yang besar terhadap perkembangna psikologis
anak-anak.
Jika orang tua
tidak melakukan kontrolin dalam hal ini, maka anak-anak akan cenderung lalai
dan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya.
7) Pengaruh
interaksi orang tua dengan tetangga
Tetangga
merupakan saudara kita yang dekat dengan kita, mereka yang pertama sekali
menolong kita jika kita terkena musibah., sehingga kita dianjurkan untuk
berlaku baik dan sopan terhadap tetangga. Dengan demikian, orang tua harus
menanamkan dan menunjukkan rasa hormat dan saling menyayangi serta tolong
menolong sesama tetangga, saling berbagi dan saling kunjung mengunjungi.
8) Lingkungan
tempat tinggal keluarga
Kondisi
lingkungan dan perilaku penduduk tempat tinggal keluarga juga berpengaruh pada
pendidikan anak. Lingkungan orang-orang yang tidak baik berbeda dengan
lingkungan tempat tinggal orang-orang saleh dan mulia. Perilaku buruk
orang-orang yang tidak baik akan berdampak pada keluarga dan anak-anak. Begitu
juga perilaku baik orang-orang yang saleh akan beerdampak baik pada keluarga
dan anak-anak. Atas dasar itulah disyari’atkan hijrah dari tempat yang tidak
baik ketempat yang baik.
9) Wisata
dan tempat-tempat yang sering dikunjungi anak
Wisata dan
tempat-tempat yang sering dikunjungi anak memiliki pengaruh kuat dalam
pendidikan dan perilaku anak. Anak yang tumbuh besar dilingkungan masjid
berbeda dengan anak yang tumbuh di warung dan tempat-tempat bermain. Anak-anak yang berkumpul dengan
teman-temannya untuk membaca al-qur’an berbeda dengan anak yang nerteman dengan
perokok dan pedagang obat-obatan.
Orang tua
hendaknya selalu mendorong dan menemani anak pergi ke masjid untuk melakuka
shalat berjama’ah maupun dengar ceramah.ajaklah anak ketempat-tempat rekreasi
yang tidak ada kemungkaran dan dosanya. Jangan sampai mengajak anak ke tempat
rekreasi yang tergolong tidak baik. karena tempat-tempat semacam ini bisa
memberikan gambaran tidak baik dibenak anak-anak, sehingga akan berdampak
negatif dalam pendidikan dan hubungan anak dengan Tuhanya, yang pada akhirnya
akan mempengaruhi kesalehan anak.
10) Anak
dan tamu
Kehadiran tamu
juga berpengaruh pada pendidikan anak.
Karena tidak sedikit tamu yang datang membawa kebiasaan, tradisi dan akhlak
tertentu. Tamu yang shaleh akan mempengaruhi akhlak anak, begitu juga dengan
tamu yang tidak baik, ia akan mempengaruhi anak. Karena itu, orang tua harus
mampu mengedalikan anaknya ketika bersama tamu.
C.
Perhatian
Orang Tua terhadap Pendidikan Anak
Pendidikan yang baik yang diberikan kepada anak-anaknya
merupakan tujuan utama orang tua karena orang tua mengingingkan anak-anaknya
berhasil, namun metode mendidik anak-anaknya yang berbeda-beda setiap orang
tua. Ada sebagian orang tua yang selalu memperhatikan perkembangan anaknya
dengan baik, menanamkan nilai-nilai agama sejak kecil melalui
pendekatan-pendekatan religius serta
nasihat-nasihat yang menjadi pegangan anak-anak dalam menjalani kehidupannya.
Misalnya penerapan shalat berjamaah, membaca al-qur’an bersama-sama,
mengajarkan tata cara berbicara dengan orang tua, dan anggota keluarga yang
lain. Hal ini terlebih dahulu orang tua mengaplikasikannya dalam kehidupan
sehari-hari sebagai teladan bagi anak-anaknya. Namun ada sebagian orang tua
menanamkan hal-hal yang baik kepada anaknya tetapi orang tua sendiri
tidak pernah melakukannya. Misalnya
orang tua melarang anak-anaknya berbohong tetapi orang tua sendiri berbohong,
melarang anak-anak berbicara dengan bahasa yang kurang sopan sedangkan orang
tua sering berbicara dengan bahasa yang kurang sopan, orang tua melarang anaknya
merokok sedangkan orang tua sendiri merokok. Sehingga pendidikan yang
diterapkan orang tua kurang berhasil karena orang tua tidak menjadi teladan
yang baik bagi anak-anak.
Mendidik anak-anak dengan metode-metode pendidikan yang
baik akan terciptanya pendidikan anak-anak yang baik, dengan selalu
memperhatikan keadaan rumah yang nyaman dan tentram, serta selalu memberikan
contoh yang baik-baik kepada anak-anak. Dan hindarilah pertengkaran dengan
suami di depan anak-anak, karena hal demikian akan berpengaruh negatif terhadap
perkembangan karakter anak-anak. Tercipta pendidikan anak-anak yang baik
dirumah merupakan faktor pertama tercapainya pendidikan anak-anak di lembaga
pendidikan lainnya.
Bentuk-bentuk perhatian orang tua terhadap pendidikan anak-anak antara
lain:
a.
Membimbing
anak-anak belajar dan membimbing anak-anak menyelesaikan tanggung jawabnya.
Sebagaiman firman Allah QS An-Nisa: 9
وَلۡيَخۡشَ
ٱلَّذِينَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِهِمۡ ذُرِّيَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ
عَلَيۡهِمۡ فَلۡيَتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡيَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدًا ٩
Artinya: “Dan hendaklah takut
kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka
anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar.” (QS.
An-Nisa: 9)
Membimbing dan menemani anak-anak belajar berarti pemberian bantuan
anak-anak dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana dalam penyesuai diri
terhadap tuntutan-tuntutan hidup, agar anak lebih terarah dalam belajar dan
mengetahui yang haq dan yang bathil. Orang tua wajib menanamkan nilai-nilai
pendidikan yang baik untuk anak-anaknya agar anak-anaknya mampu mengahadapi setiap permasalahan yang ada dalam kehidupannya.
b.
Memberikan
kebutuhan untuk anak-anak baik itu kebutuhan dalam belajar maupun kebutuhan
yang lainnya. Keperluan belajar anak-anak berupa buku belajar, seragam sekolah
alat transportasi dan lain-lain. Karena semakin lengkap kebutuhan anak-anak
dalam belajar semakin bagus pendidikan yang diperoleh, dan akan berdampak
positif dalam aktivitas belajar anak-anak.
c.
Menanamkan
nilai-nilai agama sejak dini kepada anak-anak, agar anak-anak mengenal Rabbnya
sedini mungkin, serta orang tua memberikan kasih sayang yang baik kepada
anak-anak dan orang tua memberikan nasihat yang baik ketika anak-anak melakukan
kesalahan. Sebagaimana firman Allah QS. Luqman :
أَلَمۡ
تَرَ أَنَّ ٱلۡفُلۡكَ تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِنِعۡمَتِ ٱللَّهِ لِيُرِيَكُم مِّنۡ
ءَايَٰتِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ٣١
Artinya: “Dan (Ingatlah)
ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:
"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS Luqman:13)
Demikian lah bentuk-bentuk perhatian yang diberikan orang
tua kepada anak-anaknya, namun bentuk-bentuk perhatian yang diberikan orang tua
kepada anak-anaknya berbeda-beda begitu pula cara mengaplikasi perhaatian
kepada anak-anaknya juga berbeda-beda pula.
Fachruddin Hasballah, Psikologi Keluarga
dalam Islam (Banda Aceh :Yayasan Pena, 2007), h.101.