Senin, 24 Agustus 2015

tersadar dari lamunan










Aku kembali bangkit setelah melewati masa kritis bahkan sangat kritis, tapi bukan fisik namun jiwa ku yang mengalami masa kritis itu. Aku terjatuh kembali kelubang yang sama, lubang yang ku gali sendiri meskipun teman-teman telah mengingatkannya namun entah lah aku masuk kembali ke jurang itu. Jurang yang sangat berbahaya siapa saja yang memasukinya.
****
Lima tahun perjalanan pertemanan mungkin waktu yang singkat, namun kita sudah cukup mengatahui karakter masing-masing teman kita. Seiring waktu berjalan kita semakin dekat, kitamenjadi sahabat yang selalu melengkapi mendukung satu sama lain bahkan menjadi tempat mengadu ketika hati ini gundah, lisan ini bercerita ketika ribuan masalah datang, meskipun diantara kita hanya mampu mendengar tapi itu sudah cukup, karena kita perlu tempat untuk berbagi. Detik-detik akhir perjuangan untuk membebaskan status dari mahasiswa akan segera berakhir, kita dipertemukan tidak hanya didalam kelas, namun ada beberapa kegiatan pun kita harus bekerja sama, bahu membahu untuk terwujudnya tim kerja yang baik.... membantu kamu menjadi satu kebahagian ku saat itu. Komunikasi diantara kita tiada hari yang pernah absen meskipun hanya menanyakan kabar, jika ada waktu  luang kita berbicara berjam-jam via telpon, lambat laun komunikasi tidak mencerminkan sebagaimana wajarnya komunikasi pertemanan, tapi lebih dari pada itu...... komunikasi layaknya orang pacaran  ???? entahlah tidak ada ikrar kita tentang itu,, karena kita sama-sama tau bahwa pacaran itu bukan icon dri agama kita.. namun tidak dapat dipungkuri rasa itu hadir rasa yang lebih dari sekedar sahabat.
Kamu religius menurut ku, hal itu yang membuat  ku semakin hari semakin kagum kepada mu, meskipun terkadang ada tingkah mu yang membuat  ku kesal. Aku selalu ingin menjadi pembela ketika ada teman-teman yang membicarakan kejelekanmu,  Bertemu dengan mu menjadi sumber kebahagian untuk ku,. Lambat launperasaan itu semakin kuat, aku berusaha terus untuk menjaganya, terkadang pun aku ingin menghindar dari mu agar perasaan ini tidak semakin kuat,, tapi aku tak bisa krn terkadang aku tak mau kehilangan kedekatan dengan mu. Komunikasi terus berjalan hingga pergantian status mahasiswa itu bisa berhasil ditaklukkan.
Karena kuliah selesai kita mulai jarang bertemu karena kita menjalani pilihan kita, kaki pun mulai melangkah untuk meninggalkan tempat kita mencari bekal untuk merubah peradaban. Namun, kominikasi tidak berhenti, kita terus komunikasi, komunikasi yg terkadang aku pun sulit memaknai nya,, apakah makna dari komunikasi ini ? hingga suatu saat kmu bercerita klo kamu menaruh hati pada salah seorang sahabat ku, tpi perasaan ku saat itu hanya belajar untuk menerima apa yg sedang ku dengar, aku pun memberi solusi agar hajatmu untuk memilkinya bisa diwujudkan, aku pun siap untuk menjadi perantara, hingga jalan itu sudah terbuka lebar, tanggapan positif dari sahabat ku dapat bisa diraihnya, lampu hijau pun menyala dengan sempurna.. namun tiba-tiba kamu mengundurkan diri, kecewa pasti. Kamu pun bercerita klo kamu sudah berikhtiar dengan jalan yg lain, aku semakain kecewa, perasaan tak ikhlas pun muncul dalam diriku,, aku berusaha menepisnya, aku tidak punya hak untuk mengatur-mengatur jalan hidup mu, sebagai sahabat mu aku hanya ingin mendukun jalan apa yng kmu pilih, itu cara yg bisa ku lakukan untuk menbahagiakan diriku sendiri.
Flashback semua isi chat kita, hasil pembicaraan kita,, apalah artinya itu, bukankah kita pernah tau klo kita pun pernah menuai rasa yang sama,apakah aku yg salah memaknainya, apakah aku yg terlalu ke_GR_an, tpi aku menikmati rasa itu, sehari tdk chatting sama kamu rasanya sepi.
Harapan demi harapan ku lukiskan dalam setiap anggan-angganku untuk bisa bersama mu, hingga suatu saat akau tahu dri seseorg klo kamu iningin melanjutkan kuliah di daerah ibukota propinsi daerah kita krn kamu telah melakukan khitbah dan calon bidadari yg beruntung itu berasal dari daerah itu. Tanap terasa air mata keluar dengan sendirinya deras dan semakin deras, ingin aku segera pulang dan menyembuntikan mata yg semakin sembab ini. Setelah aku tenag ku beranikan diri menanyakan kepastian kabar berita itu, namun tidak ada balasan dari kamu. Kepada sang pemberi perasaan ku mengadu semu kegundahan hati, jika ini berita ini benar smg Allah memberikan aku kekuatan dan ketuguhan hati menerima semua ini. Tetapi tiba2 besoknya kamu memberi kabar dan menanggapi berita itu, klo itu tdk benar, dan kamu benar-benar meyakinkan ku bahwa berita itu tidak benar.
Aku percaya bgitu saja, dan sedikit demi sedikit harapan yg telah hancur itu ku lukiskan kembali, kominikasi kita kembali lancar. Pada suatu hari aku mendengar kembali kabar itu untuk yg kedua kalinya dari sumber yang berbeda dan infonya lebih detail, aku mengabaikanya. Tidak ada tindak lanjut untuk menguasai hati ku ini, aku pun pasrah jika pun aku harus terpuruk kembali.
Bulan ramadhan ku manfaatkan untuk terus menguatkan doa ku, menyebutkan nama disetiap akhir sujudku, disetiap waktu berbuka tidak absen ku sebutkan nama mu. Jika memang engkau laki-laki yg ditakdirkanNya untuk ku, aku memohon Allah menunjukkan jalan Nya, jalan yg diridhainya. Begitu juga sebaliknya.
Hingga suatu saat aku mendengar pengakuan dri bibir sendiri meskipun kamu bukan bercrta kepada ku, tpi aku distu, aku mendenganya aku menyaksikannya,,
Aku jatuh sedalam-dalamnya ke dalam jurang yng membahayakan, semua terlintas kembali chattingan kita, telponan kita di beberapa moment itu.
Sampai dirumah aku terjatuh, aku bersimpuh menumpahkan segala kegundahan hati dalamsujudku, air mata terus mengalir dengan derasnya, aku memohon ampun dng sgla kekhilafan ku selama ini. Chatting dri kamu ku abaikan krn aku ingin belajar untuk keluar dari jurang yg dalam itu. Hari-hari terlewati dengan berat. Tapi aku menghiburkan hati ku, knp harus menangis jika Allah mengabulkan  doa ku, Allah menunjukkan jalan Nya agr aku terbebas dri gelora perasaan ini. Aku menangis bukan krn kamu mau menikah tapi aku menangis krn malunya aku sama diriku sendiri, ak menangis krn ak knp aku tak bisa menjaga hatiku. Aku pun berusaha terus kembali bangkit, pelajaran yang luar biasa, Allah menyadarkan ku dari lamunan yang panjang, dan aku tersadar  dunia kita berbeda, kmu terlalu baik untuk ku, kmu terlalu sempurna untuk ku.  Hingga aku pun berhasil melewati masa-masa kritis itu, kini aku hany memfokuskan diriku untuk menyelesaikan pendidikan ku, menyelesaikan tugas mahasiswa tingkat akhir ku. Aku menikmati hari-hariku sekarang, ya tugasku memperbaiki diriku, merajut doa untuk hari bahagia itu. Untuk kmu smg kamu selalu dlm lindunganNya, mudah segala urusanmu tercapai sgl cita-citamu.
****
Galau bukan sifat orang mukmin, Al-qur’an adalah obatnya. Jalan Allah itu indah, Allah membiarkan kita melakukan kesalahan agar kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jika kita berani melepaskan sesuatu, maka yakin Allah akan menggantikannya dengan yg lebih baik. Karena yang yg baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, yg baik itu semua takdir Allah yg indah, indah-seindahnya.  Jng pernah takut untuk melepaskannya krn Allah akan selalu memberikan jalanNya bagi hamba-hamabnya yg ingin memperbaiki dirinya menggapai ridha Nya. Semoga kita selalu termasuk org-org yg mendapat hidayah dan cahaya iman. 

#kutipandariceritaseorangsahabat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar