Aku kembali bangkit setelah melewati masa kritis bahkan
sangat kritis, tapi bukan fisik namun jiwa ku yang mengalami masa kritis itu.
Aku terjatuh kembali kelubang yang sama, lubang yang ku gali sendiri meskipun
teman-teman telah mengingatkannya namun entah lah aku masuk kembali ke jurang
itu. Jurang yang sangat berbahaya siapa saja yang memasukinya.
****
Lima tahun perjalanan pertemanan mungkin waktu yang
singkat, namun kita sudah cukup mengatahui karakter masing-masing teman kita.
Seiring waktu berjalan kita semakin dekat, kitamenjadi sahabat yang selalu
melengkapi mendukung satu sama lain bahkan menjadi tempat mengadu ketika hati
ini gundah, lisan ini bercerita ketika ribuan masalah datang, meskipun diantara
kita hanya mampu mendengar tapi itu sudah cukup, karena kita perlu tempat untuk
berbagi. Detik-detik akhir perjuangan untuk membebaskan status dari mahasiswa akan
segera berakhir, kita dipertemukan tidak hanya didalam kelas, namun ada
beberapa kegiatan pun kita harus bekerja sama, bahu membahu untuk terwujudnya
tim kerja yang baik.... membantu kamu menjadi satu kebahagian ku saat itu.
Komunikasi diantara kita tiada hari yang pernah absen meskipun hanya menanyakan
kabar, jika ada waktu luang kita
berbicara berjam-jam via telpon, lambat laun komunikasi tidak mencerminkan
sebagaimana wajarnya komunikasi pertemanan, tapi lebih dari pada itu......
komunikasi layaknya orang pacaran ????
entahlah tidak ada ikrar kita tentang itu,, karena kita sama-sama tau bahwa
pacaran itu bukan icon dri agama kita.. namun tidak dapat dipungkuri rasa itu hadir
rasa yang lebih dari sekedar sahabat.
Kamu religius menurut ku, hal itu yang membuat ku semakin hari semakin kagum kepada mu,
meskipun terkadang ada tingkah mu yang membuat
ku kesal. Aku selalu ingin menjadi pembela ketika ada teman-teman yang
membicarakan kejelekanmu, Bertemu dengan
mu menjadi sumber kebahagian untuk ku,. Lambat launperasaan itu semakin kuat,
aku berusaha terus untuk menjaganya, terkadang pun aku ingin menghindar dari mu
agar perasaan ini tidak semakin kuat,, tapi aku tak bisa krn terkadang aku tak
mau kehilangan kedekatan dengan mu. Komunikasi terus berjalan hingga pergantian
status mahasiswa itu bisa berhasil ditaklukkan.
Karena kuliah selesai kita mulai jarang bertemu karena
kita menjalani pilihan kita, kaki pun mulai melangkah untuk meninggalkan tempat
kita mencari bekal untuk merubah peradaban. Namun, kominikasi tidak berhenti,
kita terus komunikasi, komunikasi yg terkadang aku pun sulit memaknai nya,,
apakah makna dari komunikasi ini ? hingga suatu saat kmu bercerita klo kamu
menaruh hati pada salah seorang sahabat ku, tpi perasaan ku saat itu hanya
belajar untuk menerima apa yg sedang ku dengar, aku pun memberi solusi agar
hajatmu untuk memilkinya bisa diwujudkan, aku pun siap untuk menjadi perantara,
hingga jalan itu sudah terbuka lebar, tanggapan positif dari sahabat ku dapat
bisa diraihnya, lampu hijau pun menyala dengan sempurna.. namun tiba-tiba kamu
mengundurkan diri, kecewa pasti. Kamu pun bercerita klo kamu sudah berikhtiar
dengan jalan yg lain, aku semakain kecewa, perasaan tak ikhlas pun muncul dalam
diriku,, aku berusaha menepisnya, aku tidak punya hak untuk mengatur-mengatur
jalan hidup mu, sebagai sahabat mu aku hanya ingin mendukun jalan apa yng kmu
pilih, itu cara yg bisa ku lakukan untuk menbahagiakan diriku sendiri.
Flashback semua isi chat kita, hasil pembicaraan kita,,
apalah artinya itu, bukankah kita pernah tau klo kita pun pernah menuai rasa
yang sama,apakah aku yg salah memaknainya, apakah aku yg terlalu ke_GR_an, tpi
aku menikmati rasa itu, sehari tdk chatting sama kamu rasanya sepi.
Harapan demi harapan ku lukiskan dalam setiap
anggan-angganku untuk bisa bersama mu, hingga suatu saat akau tahu dri seseorg
klo kamu iningin melanjutkan kuliah di daerah ibukota propinsi daerah kita krn
kamu telah melakukan khitbah dan calon bidadari yg beruntung itu berasal dari
daerah itu. Tanap terasa air mata keluar dengan sendirinya deras dan semakin
deras, ingin aku segera pulang dan menyembuntikan mata yg semakin sembab ini.
Setelah aku tenag ku beranikan diri menanyakan kepastian kabar berita itu,
namun tidak ada balasan dari kamu. Kepada sang pemberi perasaan ku mengadu semu
kegundahan hati, jika ini berita ini benar smg Allah memberikan aku kekuatan
dan ketuguhan hati menerima semua ini. Tetapi tiba2 besoknya kamu memberi kabar
dan menanggapi berita itu, klo itu tdk benar, dan kamu benar-benar meyakinkan
ku bahwa berita itu tidak benar.
Aku percaya bgitu saja, dan sedikit demi sedikit harapan
yg telah hancur itu ku lukiskan kembali, kominikasi kita kembali lancar. Pada
suatu hari aku mendengar kembali kabar itu untuk yg kedua kalinya dari sumber
yang berbeda dan infonya lebih detail, aku mengabaikanya. Tidak ada tindak
lanjut untuk menguasai hati ku ini, aku pun pasrah jika pun aku harus terpuruk
kembali.
Bulan ramadhan ku manfaatkan untuk terus menguatkan doa
ku, menyebutkan nama disetiap akhir sujudku, disetiap waktu berbuka tidak absen
ku sebutkan nama mu. Jika memang engkau laki-laki yg ditakdirkanNya untuk ku,
aku memohon Allah menunjukkan jalan Nya, jalan yg diridhainya. Begitu juga
sebaliknya.
Hingga suatu saat aku mendengar pengakuan dri bibir
sendiri meskipun kamu bukan bercrta kepada ku, tpi aku distu, aku mendenganya
aku menyaksikannya,,
Aku jatuh sedalam-dalamnya ke dalam jurang yng
membahayakan, semua terlintas kembali chattingan kita, telponan kita di
beberapa moment itu.
Sampai dirumah aku terjatuh, aku bersimpuh menumpahkan
segala kegundahan hati dalamsujudku, air mata terus mengalir dengan derasnya,
aku memohon ampun dng sgla kekhilafan ku selama ini. Chatting dri kamu ku
abaikan krn aku ingin belajar untuk keluar dari jurang yg dalam itu. Hari-hari
terlewati dengan berat. Tapi aku menghiburkan hati ku, knp harus menangis jika
Allah mengabulkan doa ku, Allah
menunjukkan jalan Nya agr aku terbebas dri gelora perasaan ini. Aku menangis
bukan krn kamu mau menikah tapi aku menangis krn malunya aku sama diriku
sendiri, ak menangis krn ak knp aku tak bisa menjaga hatiku. Aku pun berusaha
terus kembali bangkit, pelajaran yang luar biasa, Allah menyadarkan ku dari
lamunan yang panjang, dan aku tersadar
dunia kita berbeda, kmu terlalu baik untuk ku, kmu terlalu sempurna
untuk ku. Hingga aku pun berhasil
melewati masa-masa kritis itu, kini aku hany memfokuskan diriku untuk
menyelesaikan pendidikan ku, menyelesaikan tugas mahasiswa tingkat akhir ku.
Aku menikmati hari-hariku sekarang, ya tugasku memperbaiki diriku, merajut doa
untuk hari bahagia itu. Untuk kmu smg kamu selalu dlm lindunganNya, mudah
segala urusanmu tercapai sgl cita-citamu.
****
Galau bukan sifat orang mukmin, Al-qur’an adalah obatnya.
Jalan Allah itu indah, Allah membiarkan kita melakukan kesalahan agar kita bisa
belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Jika kita berani melepaskan
sesuatu, maka yakin Allah akan menggantikannya dengan yg lebih baik. Karena
yang yg baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, yg baik itu semua takdir
Allah yg indah, indah-seindahnya. Jng
pernah takut untuk melepaskannya krn Allah akan selalu memberikan jalanNya bagi
hamba-hamabnya yg ingin memperbaiki dirinya menggapai ridha Nya. Semoga kita
selalu termasuk org-org yg mendapat hidayah dan cahaya iman.
#kutipandariceritaseorangsahabat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar